Dana Aspirasi, Untuk Rakyat atau Wakil Rakyat?

Suasana rapat paripurna DPR di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6/2015). Meski ditolak oleh Fraksi PDI-P, Nasdem dan Hanura, rapat paripurna tersebut akhirnya menyetujui peraturan DPR tentang tata cara pengusulan program pembangunan dana aspirasi.  Wahyu Wening/tribratanews.com

Suasana rapat paripurna DPR di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (23/6/2015). Meski ditolak oleh Fraksi PDI-P, Nasdem dan Hanura, rapat paripurna tersebut akhirnya menyetujui peraturan DPR tentang tata cara pengusulan program pembangunan dana aspirasi.

Oleh : Muhammad Yasin Fadilah

Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta

Dana aspirasi merupakan dana yang dianggarkan oleh pemerintah untuk menunjang kegiatan DPR/DPRD sebagai salah satu laporan masyarakat atau rakyat terkait permasalahan masyarakat seperti infrastruktur dan suprastruktur yang ada di daerah  pemilihan kandidat DPR/DPRD tersebut. Untuk nantinya dilaporkan kepada pemerintah dan diselesaikan dengan cepat dan tindak. Akan tetapi, Persoalan Dana Aspirasi Anggota DPR yang cenderung melihat kepada keuntungan pribadi sementara, dimana dana aspirasi yang diberikan untuk rakyat ini sangat rentan akan disalahgunakan. Seperti masyarakat membutuhkan jalan lingkungan yang menunjang aktivitas masyarakat agar mempermudah akses transportasi, dsb.

Pemanfaatan dana aspirasi yang dimiliki oleh dpr saat ini sangat tidak berimbas positif untuk kesejahteraan masyarakat dan tidak menunjang kegiatan dpr/dprd untuk melakukan pembangunan. Justru ini akan mempunyai kendala baru atau berbagai macam masalah akan muncul ketika dana aspirasi ini tidak sesuai porsinya. Artinya, dana aspirasi ini ketika dilebih-lebihkan akan membuat permasalahan baru yang justru membuat banyaknya anggota dpr yang terjerat korupsi karna dana aspirasi tersebut. Banyak anggota dpr menyangkal bahwa dana aspirasi ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat, untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat dsb. Memang ketika pemerintah atau eksekutif tidak tanggap melihat keadaan masyarakat dana aspirasi tersebut merupakan pilihan atau opsi untuk menunjang keterkurangan kebutuhan masyarakat seperti infrastruktur dsb. Akan tetapi jumlahnya tidak fantastis, perlu banyak pertimbangan yang harus dimatangkan. Apalagi disaat ekonomi Indonesia yang sedang terpuruk, wakil rakyat harusnya melihat dengan objektif bahwa permasalahan masyarakat saat ini sangat kompleks. Perlu penetrasi atau terobosan-terobosan yang baru dari wakil rakyat dan pemerintah untuk menstabilkan perekonomian Indonesia yang sangat terpuruk. Akan tetapi, semakin terlihat bahwa kinerja dpr sangat bersifat subjektif/ selain itu, hanya mementingkan dan menguntungkan pribadi dan partai saja. Hal ini merupakan cermin dari tidak adanya check and balances antara pemerintah dengan dpr. Mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi beserta golongan nya saja. Akan tetapi kepentingan rakyat semakin lama semakin terabaikan. Kita perlu pemimpin yang mampu melerai dan mengatasi masalah satu demi satu, setidaknya bisa meminimalisir terjadinya permasalahan yang membuat rakyat kecewa. Terima Kasih

Bangkit Indonesiaku, disana beta lahir. Maka dengan sepenuh hati dan keikhlasan beta bela mati-matian.

Advertisements

IDEOLOGI DAN REALITASNYA (Ronald. H Chilcote) Oleh : Muhammad Yasin Fadilah

Oleh : Muhammad Yasin Fadilah

Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta

“Sebuah revolusi baru telah berlangsung dalam ilmu politik amerika, yang diperjuangkan adalah relevansi dan aksi. Tujuan kritiknya adalah disiplin, profesi dan universitas”

                                                                                                                        David Easton

Istilah ideologi dahulu muncul dari kalangan teoritisi dan ideologi di era pasca pencerahan (enlightment) yang mengartikannya sebagai “Ilmu Gagasan”. Ideology adalah sutu cara menemukan kebenaran dan mengenyahkan ilusi (Mullins : 1972), tetapi karl marx menyatakn pendapat lain terhadap pengertian ideologi. Marx misalnya dalam tulisannya yang berjudul The German Ideology, mengartikan istilah ideologi dengan kesadaran keliru atau sekedar ilusi politik yang bersumber dari pengalaman hidup di sebuah kelas tertentu. Hanya melalui kelas maka akan muncul kesadaran sejati.

Perjuangan tersebut bisa saja terjadi jika ada pengakuan minkonsepsi tersebut, yang berkaitan dengan kegagalan individu memahami keterasingannya di lingkungan. Jadi, kemajuan menuju masyarakat tanpa kelas akan menghilangkan berbagai mitodologi dan takhayul, serta menjamin tumbuhnya masyarakat yang utama (benevolent society), yang universal dalam dan penerimaannya.

Argumen yang ditekankan disini adalah bahwa ideologi itu terikat erat oeleh politik. Asumsi asumsi ideologis tentang indrustrialisasi dan modernisasi, kemajuan, stabilitas, senantiasa mewarnai ilmu politik.

KESARJANAAN, ETIKA DAN KEMAPANAN.

            Secara tradisional, universitas dipandang sebagai lembaga netral yang terhormat. Biasanya, universitas juga adalah wadah belajar-mengajar para akademisi untuk terus berkembang dan meneliti masalah – masalah yang ada dimasyarakat. Namun kemudian bertolak belakang dengan latar belakang universitas dulu, sekarang banyak orang yang mau membayar untuk memperoleh pengetahuan dari universitas, yang kemudian diandalkannya untuk memperoleh mata pencaharian. Jadi, mahasiswa menggunakan pengetahuan sebagai suatu alat, bukan sekedar wahana dialog antara dirinya dengan dunia luar. Ini sama halnya dengan yang dipakai oleh para ilmuan dulu yang membedakan antara nilai dan fakta, dimana diasumsikan bahwa dalam kapasitas profesinya seseorang harus terikat pada nilai-nilai dan emosi jiwa.

            Konsekuensinya, merekapun tidak mempersoalkan lagi gambaran keseluruhan aktivitasnya maupun bentuk hasil karyanya (termasuk dampak dan segi etisnya). Bahkan, sebagaimana disinyalir oleh clark kerr, perjuangan intelektual menjadi komponen dari kompleks indrustri dan militer modern.

Para ilmuan menilai bahwa etiaka para sarjana ilmu politik itu dibutuhkan untuk mengkokohkan pondasi ilmu mereka agar tidak adanya ilmuan politik yang bersifat “pengejar harta”.

Pemahaman atas ideologi-ideologi yang ,melingkupi politik itu mendoromng adanya peninjauan ulang terhadap ilmu politik dan para ilmuan politiknya, antara lain :

Pertama, bangkitnya tentangan terhadap struktur kekuasaan professional yang ada yang bertujuan mempromosikan etika didunia pendidikan kesarjanaan dan perkuliahan, yang kemudian juga memunculkan perubahan radikal atas pemahaman mengenai masyarakat.

Kedua, muncul kesadaran atas adanya hubungan antara dunia universitas dan pemerintahan.

Ketiga, berkembangnya penetrasi  yang kritis terhadap kegiatan pemerintahan dan control terhadap jalannya kontrol-kontrol kepada pemerintah.

            Dari semua akupan-cakupan para ilmuan diatas dapat kita simpulkan perbahan ideologi dan dampak perubahan ideologi yang sangat mempengaruhi berbagai kalangan termasuk kalangan akademisi untuk bertindak sebagai peneliti dan penerjemah serta pengkritisi untuk lebih menilai lebih akan ilmu bukan menjadikan nya sebagai alat pencapaian penghasilan yang bersifat kelas.

Penyadapan Australia

Sebagai negara yang berdaulat tentu kita akan terusik apabila ada pihak Negara lain yang mencampuri urusan dalam negri. Tetapi lain lagi halnya dengan permasalahan yang satu ini, yang sudah benar-benar menelanjangi pemerintahan Indonesia, dengan aksi penyadapan oleh pihak Australia dan amerika terhadap SBY dan beberapa pejabat lainnya. Aksi penyadapan ini sudah memang benar-benar melanggar etika diplomasi dan merusak keharmonisan kerjasama antara Negara. Dengan sikap egois Negara Australia yang bersikeras tidak mau meminta maaf dan mengakui aksi penyadapan tersebut yang dilakukan mereka terhadap Indonesia, itu membuktikan mereka telah menginjak-injak kedaulatan negaraa kita. Tetapi kenapa Bapak presiden kita SBY masih setia menunggu pihak Australia untuk menjelaskan dan meminta ma’af kepada Indonesia. sedangkan sudah jelas pernyataan Australia bahwa mereka tidak akan pernah meminta ma’af kepada Indonesia demi menjaga Negara dan warga Negara mereka. Menilai pernyataan pihak Australia tersebut dengan keegoisan mereka harus segera diambili sikap yang tegas supaya kita tidak ditertawakan oleh Negara lain. oleh karena itu tindakan yang rasional yang harus diambil oleh Indonesia dengan cara memutuskan hubungan diplomasi selamanya denga Australia. Alasan ini sangat rasional dan berwibawa sebagai bentuk untuk menunjukkan bahwa kita bangsa yang berani. Kita harus menuntut untuk mengusir dengan tidak hormat kedutaan besar Australia yang ada di Indonesia. Apabila pemerintahan kita mesih memperlihatkan sikap kelembekannya maka Negara kita yang berdaulat ini akan menjadi bahasn tertawaan dunia, Oleh karena itu kita harus segera mengambil sikap yang kongkrit terhadap permasalahan ini.

“ BURUH BERSATULAH “ -Karl Mark-

Setelah berhasil memulihkan fungsi waduk Pluit di Jakarta Utara, saat ini Pemprov DKI Jakarta akan mengembalikan fungsi waduk Danau Ria Rio di Jakarta Timur. Rencana tersebut sudah barang tentu akan menghadirkan PENGGUSURAN bagi rumah-rumah orang kecil yang bermukim di sekitar waduk Danau Ria Rio.

Meskipun saya sebagai warga pendatang sudah barang tentu mendukung Jakarta yang merindukan. Jakarta Bebas banjir. Meski begitu saya keberatan jika upaya tersebut tidak memperhatikan hak dan keadilan bagi orang kecil yang bermukim di sekitar waduk. Sebagaimana kita ketahui dengan menjamurnya pemukiman orang-orang kecil yang dalam isltilah Iwan Fals orang pinggiran, di atas tanah ilegal atau bukan haknya merupakan akibat dari kegagalan negara memenuhi tanggungjawabnya dalam menyediakan perumahan murah yang layak dan berkualitas untuk rakyat. Hal itu juga terjadi oleh karena komersialisasi tanah di perkotaan selalu menjadi orientasi penguasa perkotaan.

Pemprov Jakarta harus selalu mengedepankan keadilan bagi orang kecil. Tidak boleh sewenang-wenang memperlakukan rakyat kecil dengan tidak sewajarnya. Saya sangat terkejut setelah membaca surat kabar yang memberitakan bahwa Pemprov Jakarta tidak akan memberikan ganti rugi kepada warga yang bermukim di Danau Ria Rio.

Dan yang lebih sadis lagi menurut Ahok, memberikan uang ganti rugi kepada warga yang tinggal di lahan ilegal hanya akan melanggengkan praktek jual beli ditempat itu. Sehingga, Pemprov Jakarta berkewajiban menghentikan praktek jual beli diatas tanah negara.

Wakil Gubernur harus berkaca pada Gubernur

Sebagai seorang Wakil Gubernur yang didukung banyak rakyat, seharusnya Ahok tak perlu bicara seperti itu. Sebabnya sebagian diantara warga yang akan menjadi korban penggusuran menyatakan memiliki surat tanah. Selain itu yang membuat hati saya kecewa adalah, tanpa memperdulikan berapa besar biaya mendirikan bangunan yang telah dikeluarkan oleh warga, Pemprov Jakarta hanya memberikan ganti rugi sebesar Rp 1 Juta per keluarga dan akan memberikan uang sewa rumah sementara, selama rusun belum siap.

Saya menilai bahwa cara Pemprov Jakarta dalam hal memperlakukan warga masih saja seperti penguasa-penguasa sebelumnya. Semestinya sebagai penguasa Ahok sadar bahwa rakyat kecil merupakan korban dari kebijakan pemerintah sebelumnya. Sangat tidak bijaksana jika rakyat kecil selalu diperlakukan sebagai biang onar atau sumber penyebab masalah (banjir).

 

Mungkin disini kronolioginya

Yang bikin hati saya tambah kecewa dengan rencana Pemprov Jakarta pemulihan waduk Danau Ria Rio adalah: mengapa Pemprov Jakarta tidak terlebih dahulu melakukan dialog dengan warga yang bermukim di sekitar danau? Kenapa keputusan memulihkan fungsi waduk keluar tanpa mendengar suara dan aspirasi dari warga yang bermukim di sekitar waduk Danau Ria Rio? Apa karena warga kebanyak orang kecil dan tidak memiliki kepintaran mengenai ilmu waduk dan tata air, sehingga Pemprov Jakarta merasa yakin tak perlu melibatkan warga?

Cara-cara tersebut jelas-jelas hanya akan memunculkan konflik antar warga dan Pemprov Jakarta. Cara tersebut sudah barang tentu tidak pantas digunakan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur yang menyatakan diri pro rakyat kecil. Dalam benak fikiran saya, selalu terlintas apakah Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta akan sungguh-sungguh membenahi Jakarta bebas dari banjir? Jika memang sungguh-sungguh artinya Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta akan konsisten menjalankan kebijakannya.

 

Tegas itu tidak sebatas untuk kaum proletar saja pak

Hampir satu tahun sudah Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta menjabat, namun kebijakannya hanya berani tegas kepada warga Jakarta dari golongan kecil dan miskin saja. Selanjutnya saya menantikan kebaranian dan kesungguhan pemimpin Jakarta Baru untuk secara konsisten mengembalikan fungsi lahan serapan air yang saat ini sudah digunakan sebagai perumahan-perumahan mewah seperti di Pantai Indah Kapuk, Pluit, Ancol, Kelapa Gading dan dsb dasar, ah jangan-jangan Gubernur dan Wakilnya antek Feodalisme gaya baru.

Saya meyakini jika pemimpin Jakarta Baru konsisten dan sungguh-sungguh ingin mengatasi Banjir di Jakarta, artinya mengembalikan fungsi lahan serapan air yang saat ini sudah disalahgunakan oleh golongan orang kaya, harusnya agenda mendesak dilakukan oleh pemimpin Jakarta Baru. Dan, untuk itu saya tantang keberanian dan ketegasan Pemimpin Jakarta Baru menghadapi orang-orang kaya yang telah puluhan tahun bersekongkol dengan penguasa menyebabkan kerusakan kota Jakarta. Termasuk yang telah merampas ruang Ibu Kota dari golongan orang miskin seperti tetangg-tetangga saya.

Salam kepada saudara-saudara ku orang-orang kecil dan miskin di Danau Ria Rio Pemimpin Jakarta Baru berani menyatakan tidak akan memberikan ganti rugi. Akan kah kepada orang-orang kaya yang bermukim di Pantai Indah Kapuk, Pluit, Ancol dan Kelapa Gading, Pemimpin Jakarta Baru berani menyatakan hal yang sama?

Saya mengajak warga Jakarta untuk kembali berfikir kritis. Jangan lah orang kecil dan miskin selalu dijadikan korban pembangunan.

 

 

Sajak Seonggok Jagung Oleh Ws. Rendra – Tentang Pemuda

Seonggok jagung di kamar
Dan seorang pemuda
Yang kurang sekolahan.
Memandang jagung itu,
Sang pemuda melihat ladang;
Iya melihat petani;
Iya melihat panen;
Dan suatu hari subuh,
Para wanita dengan gendongan
Pergi ke pasar….
Dan ia juga melihat
Suatu pagi hari
Didekat sumur
Gadis-gadis bercanda
Sambil menumbuk jagung
Menjadi maisena.
Sedang didalam dapur
Tungku-tungku menyala.
Didalam udara murni
Tercium kuwe jagung
Seonggok jagung di kamar
Dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
Otak dan tangan
Siap bekerja
Tetapi ini :
Seonggok jagung di kamar
Dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu
Dan ia melihat dirinya terlunta-lunta.
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomer-nomer lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
Tak akan menolong seorang pemuda
Yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
Dan tidak dari kehidupan.
Yqng tidak terlatih dalam metode,
Dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
Yang hanya terlatih sebagai pemakai,
Tetapi kurang latihan bebas berkarya,
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya membuat seseorang menjadi asing
Ditengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
Bila hanya mendorong seseorang
Menjadi layang-layang di ibukota
Kikuk pulang kedaerahnya?
Apakah gunanya seseorang
Belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja,
Bila pada akhirnya,
Ketika ia pulang kedaerahnya, lalu berkata:
“Disini aku merasa asing dan Sepi”

#Sumpah pemuda, wahai pemuda indonesia bangkitlah buatlah indonesia bangga mempunya pemuda sepertimu, #berikan aku 10 pemuda,maka akan aku guncang dunia (soekarno)

Ironis, Kapitalisasi di indonesia masih berjamur bahkan ke ranah desa sekalipun

Image

Selasa, 10 September 2013

Oleh Muhammad Yasin Fadilah 

KOMPASIANA – Kapital, apa sih yang disebut kapital? dan kenapa sih banyak orang sering menyebut kapital? dan orang yang kapitalis itu biadab pemikiran ekonominya? hanya menguntungkan sepihak saja.

Kapital adalah modal modal tersebut biasanya dipakai di kalangan para pengusaha, ekonom, dll

Disaat masa pemerintahan sekarang yang amburadul tak jelas arah nya kemana, disaat para buruh bersorak mempertahankan hak asasinya sebagai buruh yang terus menerus ditindak oleh kaum kapitalis justru ada stitik kisah yang sangat pilu dari sosoknya yang lugu sebagai seorang petani kecil dengan penghasilan minim dengan segala pengalamannya di kehidupan yang kejam ini dia sanggup bertahan lama.

Ini terjadi saat pagi tadi saat saya sedang mengobrol di suatu desa di kota bogor dengan pedagang yang awalnya petani sekarang beralih profesi karena opsi kehidupan yang mendesak beliau untuk tetap hidup dalam segala keterbatasan yang ada.

sebut saja bapak iman dia seorang pedagang buah keliling yang sehari-hari menggantungkan hidupnya dari tanah dan pertanian baik itu padi, buah-buahan dan yang lainnya.kisah pilu ini berawal ketika pak iman ini pada tahun 2008 lalu sedang membajak sawah kaum feodal yang mempunyai hak penuh terhadap tanah tersebut dan menikmati hasilnya pula. ketika itu beliau sedang membereskan sisa-sisa tanaman padi yang ditumbuhinya di ladang orang feodal tersebut datang seorang pria dengan gagahnya memakas pekerjaan bapak iman tersebut. dia menanyakan sebagian sewa tanah yang belum terbayar oleh pak iman karena sewa menyewa tanah tersebut sudah biasa dilakukan oleh kaum feodal dengan alih dalih memiliki hak atas tanah tersebut. pak iman bingung tak ketulungan bak ditanya perihal sewa menyewa tanah yang dimaksdukan bapak tersebut padahal seingatnya sudah terbayar lunas untuk sewa menyewa tanah. alhasil pak iman diseret ke luar dari sawah tersebut dan berbincang sebentar untuk persoalan sewa menyewa tanah tersebut. tidak adanya bukti pembayaran memberatkan pak iman saat itu maklum sudah lanjut usia jadi beliau termakan usia sehingga tidak mengerti mekanisme yang benar jadi gampang tertipu. setelah lama mengobrol akhirnya keputusan sepihak dikeluarkan oleh si bapak tadi dengan segala dasar agar bisa tanah tersebut tidak di kerjakan lagi oleh pak iman mungkin sewa orang lain lebih besar dari tawaran sewa pak iman dulu sewaktu negosiasi pak iman dilarang keras untuk menanam sekecil apapun tanaman/buah/sayuran di tanah miliknya lagi.

ini sama halnya dengan rusia pada waktu dulu sekitar tahun 1905-1917 pada masa itu kaum petani menguasai 84 % oposisi suara dan pekerjaan mayoritas rakyat rusia pada waktu itu petani yang dipimpin oelh lenin ketua partai bolsheviek (mayoritas) yang memegang teguh anti kapitalis yang menjamur di rusia pada awal tahun sembilan puluhan tersebut.

ironis memang, ketika rakyat rusia sudah melewati masa masa kapitalisasi justru indonesia baru mengalami hal yang sama ketika dulu dijajah oleh para komune biadab.

saya pikir, masalah ini bisa menjalar ke perkampungan itu tidak menjadi logis, disaat para feodal menguasai tanah, kaum petani yang pas-pasan kena imbasnya inilah kejamnya kapitalisasi yang semakin hari semakin menjamur di indonesia. penanaman karakter ini juga menjalar ke anak muda yang semakin hari semakin cerdik dengan segala statement nya.

sangat disayangkan kalau sampe indonesia terjeblos lagi ke tatanan penjajahan yang saya pikir tak terasa, cara halus lebih dijalani guna melihat perspektif para kaum pemuas harta apalagi di tahun 2015 nanti indonesia menjadi tuan rumah perdagangan bebas dunia. semakin menjadi tamu saja kita, semakin diinjak sama nanti bahkan pulang ke rumah saja harus permisi kepada kaum kapitalis yang biadab.

Ironis, sanagat ironis tindakan presiden pun tidak tegas, birokrasi juga terpangkas flat dengan berbagai souvenir-souvenir yang menggugah nafsu. makin tersiksa saja kaum kecil, makin tertindas saja kaum proletar maka benar kata lenin

“Kebebasan politik, tidak akan kesejahteraan kaum buruh, kaum proletar, dan kaum tani, melainkan hanya meningkatkan perjuangan kaum buruh, kaum kecil dll melawan kaum borjuis”.

Demikian kilasan saya terima kasih apabila ada kesalahan mohon dikoreksi “still beginner”

PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

Jakarta, 22 July 2013

Proklamasi

 

Image

Asal kata Proklamasi adalah dari kata “proclamatio” (bhs. Yunani) yang artinya pengumuman kepada seluruh rakyat. Pengumunan tersebut terutama pada hal-hal yang berhubungan dengan ketatanegaraan. Proklamasi Kemerdekaan merupakan pengumumam kepada seluruh rakyat akan adanya kemerdekaan.

Pada umumnya kemerdekaan bagi suatu bangsa dimaksudkan untuk: a. melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa lain; b. dapat hidup sederajat dengan bangsa-bangsa lain yang telah merdeka dalam pergaulan antar bangsa di dunia internasional; c. mencapai tujuan nasional bangsa.

Membandingkan Teks Proklamasi (ref)

INDONESIA

P R O K L A M A S I

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta

Sumber : http://enda.goblogmedia.com/demi-bangsa.html

Teks Proklamasi Versi Pemuda 45

“Bahwa dengan ini rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Segala badan-badan pemerintah yang ada, harus direbut oleh rakyat dari orang-orang asing yang masih mempertahankannya.”

*Soekarni menyebut di dalam pertemuan di rumah Maeda, teks Proklamasi yang dibuat pemuda tidak disetujui karena isinya terlalu keras. Bunyinya adalah seperti di atas. Tentang teks proklamasi versi pemuda ditulis juga di dalam buku Adam Malik, namun tidak dijelaskan siapa yang membuatnya. Barangkali Soekarni bersama teman-teman Jawa timurnya yang ada di Jakarta. Mungkin juga Adam Malik atau dibuat oleh Husein, wakil pemuda dari Bayah (Husein inilah ternyata Tan Malaka yang asli). (Lihat disini)

Teks Proklamasi Versi BPUPKI

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Bangsa Indonesia di zaman dahulu telah mempunyai riwayat mulia dan bahagia, yang batas-batasnya meliputi seluruh kepulauan Indonesia sampai ke Papua, malah melampaui ke daratan Asia sampai ke batas-batas tanah Siam; negara merdeka, yang dalam perhubungan perdamaian dan persahabatan dengan negara-negara merdeka di daratan Asia, menyambut tiap-tiap bangsa yang datang dengan kemurahan hati.

Kedatangan bangsa-bangsa Barat di Indonesia, membawalah bencana kepada bangsa Indonesia itu. Lebih dari tiga abad meringkuklah bangsa Indonesia di bawah kekuasaan Belanda dengan haluan politik jahat: memecah-mecah persatuan kita, menghina, menginjak-injak rasa kehormatan kita, menghina, menghisap-memeras kekayaan kita untuk kepentingan bangsa Belanda sendiri.

Perkosaan yang jahat itu tidak dapat persambungan dalam dunia seterusnya, yang di dalamnya bertambah-tambah kehebatan perlombaan imperialisme Barat, berebut kekayaan segenap dunia. Dan lama-kelamaan bangkitlah kembali dengan sehebat-hebatnya semangat perlawanan bangsa Indonesia, yang memang tak pernah padam dan tak pernah dipadamkan, dalam lebih 3 abad perkosaan oleh imperialisme Belanda itu. Sejarah kolonialisme Belanda di Indonesa adalah sejarah berpuluh-puluh pemberontakan bangsa Indonesia melawan imperialisme Belanda itu. Bergeloralah lagi di dalam kalbu bangsa Indonesia tekad yang berkobar-kobar berbangkit kembali sebagai satu bangsa yang merdeka dalam satu negara yang merdeka, melahirkanlah pergerakan teratur dalam bangsa Indonesia, yang didasarkan atas cita-cita keadilan dan kemanusiaan, menuntut pengakuan hak kemerdekaan tiap-tiap bangsa. Tidak tercegah, tidak tertahan tumbuhnya, meluas dan mendalam pergerakan ini dalam segenap lapisan dan segenap barisan bangsa Indonesia, betapa pun kerasnya, betapa pun buasnya betapa pun ganasnya kekuatan pemerintah Belanda berikhtiar mencegah dan menindasnya.

Di saat memuncaknya gelagat pergerakan itu yang seperti saat kelahiran anak dari kandungan ibunya, maka Tuhan Yan Maha Kuasa telah membelokkan perjaanan riwayat dunia, mengalih/memindahakn perimbangan kekuasaan di muka bumi, istimewa di daerah Lautan Teduh, untuk membantu pembinaan kelahiran itu.

Tuntutan Dai Nippo Teikoku, bertentangan degnan tujuan-tujuan imperialisme Barat, yaitu tuntutan hak kemerdekaan Asia atas dasar persamaan hak bangsa-bangsa, serta politik yang dengan tegas dan tepat dijalankan olehnya, menuju pembangunan negara-negara merdeka dan lingkungan kemakmuran bersama Asia Timur Raya, akhirnya telah menyebabkan Dai Nipoon Teikoku menyatakan perang kepada Amerika Serikat dan Inggris. Perang Asia Timur Raya ini, yang berkebetulan dengan saat memuncaknya perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesa dan pergerakan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia yang lain, menjadilah sebagai puncak pertemuan perjuangan kemerdekaan segala bangsa Asia di daratan dan di kepulauan Asia.

Dengan mengakui dan menghargai tnggi keutamaan niat dan tujuan Dai Nipoon Teikoku dengan Perang Asia Timur Raya itu, maka tiap-tiap bangsa dalam lingkungan Asia Timur Raya atas dasar pembelaan bersama, wajiblah menyumbangkan sepenuhnya tenaganya dengan tekad yang sebulat-bulatnya, kepada perjuangan bersama itu, sebagai jaminan yang seteguh-teguhnya untuk keselamatan kemerdekaannya masing-masing.

Maka sekarang, telah sampailah perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentausa menghantarkan rakyat Indonesia, adil dan makmur, yang hidup sebagai anggota sejati dalam kekeluargaan Asia Timur Raya. Di depan pintu gerbang Negara Indonesia itulah rakyat Indonesia menyatakan hormat dan terima kasih kepada semua pahlawan-pahlawan kemerdekaannya yang telah mangkat.

Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, berdasar atas segala alasan yang tersebut di atas itu, dan didorong oleh keinginan luhur supaya bertangung-jawab atas nasib sendiri, berkehidupan kebangsaan yang bebas, mulia, terhormat, maka rakyat Indonesia dengan ini: MENYATAKAN KEMERDEKAAN.

Naskah ini tidak jadi dibacakan karena pada dinihari 17 Agustus 1945, pada saat Soekarno-Hatta, dkk., berkumpul di kediaman Marsekal Maeda untuk membahas pernyataan kemerdekaan, tidak ada satu pun orang yang hadir membawa naskah Pernyataan Kemerdekaan yang disusun di BPUPKI. (ref)

Proklamasi Sjahrir

Sjahrir  pernah menyiapkan sebuah teks proklamasi yang sempat dibacakan oleh Dr. Soedarsono (ayah  Juwono Soedarsono) di daerah Kosambi, Cirebon (sekarang di sekitar Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon), pada 16 Agustus 1945. Sjahrir menuliskan teks proklamasi pada 15 Agustus 1945, dua hari lebih dulu dari teks proklamasi yang kita kenal sekarang. Teks itu sempat pula beredar di tangan orang-orang yang pada malam 16 Agustus 1945 hadir dalam rapat penyusunan teks proklamasi Proklamasi di rumah Laksamana Maeda.

Saat Soedarsono membacakan teks proklamasi, sekitar 150 orang memenuhi alun-alun Kejaksan. Sebagian besar anggota Partai Nasional Indonesia Pendidikan. Cirebon memang merupakan salah satu basis PNI Pendidikan. (ref)

Di buku berjudul “Ayahku Maroeto Nitimihardjo Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan” karangan Hadidjojo, anak Maroeto) di sebuah ‘pengungsian’ bagi istri dan anaknya yaitu di desa Perapatan, sebelah barat Palimanan, 30 km jauhnya dari Cirebon tempat dr.Soedarsono berasal. Dr.Soedarsono meminta teks Proklamasi yang dibuat Sjahrir yang katanya dititipkan pada Maroeto. Namun Maroeto menyatakan tidak ada.

Hingga dr.Soedarsono menjadi berang dan berkata, “Saya sudah bersepeda 60 kilometer hanya untuk mendengar, Sjahrir tidak berbuat apa-apa. Katakan kepada Sjahrir, saya akan membuat proklamasi di Cirebon.”

Dan akhirnya terkabarlah bahwa Proklamasi itu dibuat dan dibacakan oleh dr.Soedarsono pada pagi hari tanggal 16 Agustus 1945 di alun-alun Cirebon yang dihadiri sekitar 150 orang. Sehari sebelum Soekarno membacakan Proklamasi di penggangsaan Timur 56 Jakarta.

Namun kisah yang dipaparkan Maroeto berbeda dengan kisah yang diungkap oleh Des Alwi, anak angkat Sjahrir. Menurutnya, teks proklamasi yang dibacakan Soedarsono adalah hasil karya Sjahrir dan aktivis gerakan bawah tanah lainnya yang melibatkan Soekarni, Chaerul Saleh, Eri Sudewo, Johan Nur, dan Abu Bakar Lubis. Penyusunan teks dilakukan di Asrama Prapatan Nomor 10, Jakarta, pada 13 Agustus 1945. Asrama Prapatan kala itu sering dijadikan tempat nongkrong para anggota gerakan bawah tanah.

Ada sebaris teks proklamasi yang diingat oleh Des Alwi yaitu : “Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tak mau dijajah dengan siapa pun juga.

Hal ini dikuatkan dalam sebuah buku berjudul Sjahrir yang dikarang oleh Rudolf Mrazek yang mengatakan bahwa  teks proklamasi yang dibacakan oleh dr.Soedarsono diketik sepanjang 300 kata. Namun Sjahrir mengatakan kehilangan teks proklamasi yang disimpannya.

Waktu yang akan membeberkannya, karena dokumentasi Proklamasi Cirebon 15 Agustus 1945 juga tak ada. Maroeto juga ada menceritakan, di suatu kesempatan dr.Soedarsono selalu ketawa bila tentang kisah Proklamasi di Cirebon itu ditanyakan, apalagi bila ditanyakan bunyi proklamasinya. Bahkan dr.Soedarsono menceritakan bahwa Mr. Jusuf, seorang anggota PKI lama yang beristrikan seorang wanita Belanda juga membuat proklamasi di Indramayu, suatu kabupaten dekat Cirebon. Namun dr.Soedarsono tidak menjelaskan kapan Mr. Jusuf membacakan proklamasinya. Bila hal ini benar, maka Maroeto mengatakan bahwa di bulan Agustus 1945 ada 3 Proklamasi yang dibacakan. (ref)

********

NII

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih

Ashhadu alla ilaha illallah, wa ashhadu anna Muhammadarrasulullah

Kami, Ummat Islam Bangsa Indonesia

MENYATAKAN :

BERDIRINYA NEGARA ISLAM INDONESIA

Maka Hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia itu, ialah : HUKUM ISLAM.

Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar !

Atas nama Ummat Islam Bangsa Indonesia

IMAM NEGARA ISLAM INDONESIA

ttd

S.M. KARTOSOEWIRJO

Madinah – Indonesia,

12 Syawal 1368 / 7 Agustus 1949.

Sumber : http://members.tripod.com/DARUL_ISLAM/nii-prev.html

ACHEH

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

KEPADA BANGSA-BANGSA DI DUNIA,

Kami bangsa Acheh Sumatra, telah melaksanakan hak hak kami untuk menentukan nasib sendiri, dan melaksanakan tugas kami untuk melindungi hak suci kami atas tanah pusaka peninggalan nenek moyang, dengan ini menyatakan diri kami dan negeri kami bebas dan merdeka dari penguasaan dan penjajahan regime asing Jawa di Jakarta.

Tanah air kami Acheh, Sumatera, telah menjadi satu negara yang bebas, merdeka dan berdaulat selama dunia terkembang, Belanda adalah penjajah asing yang pertama datang mencoba menjajah kami ketika ia menyatakan perang kepada negara Acheh yang merdeka dan berdaulat, pada 26 Mart 1873, dan melakukan serangan atas kami pada hari itu juga, dengan dibantu oleh serdadu-serdadu sewaan Jawa, apa kesudahannya serangan Belanda ini sudah tertulis pada halaman muka surat-surat kabar di seluruh dunia, surat kabar London “Times” menulis pada 22 April, 1873:

“Suatu kejadian yang sangat menarik hati sudah diberitakan terjadi di kepulauan Hindia Timur, satu kekuatan besar dari tentara bangsa Eropah sudah dikalahkan dan dipukul mundur oleh tentara anak negeri… tentara negara Acheh, bangsa Acheh sudah mendapat kemenangan yang menentukan. Musuh mereka bukan saja sudah kalah, tetapi dipaksa melarikan diri”.

Surat kabar Amerika, “The New York Times” pada 6 Mei 1873, menulis: “Peperangan yang berkubang darah sudah terjadi di Acheh, kerajaan yang memerintah Sumatra Utara, tentara Belanda sudah menyerang negara itu dan kini kita sudah mengetahui kesudahannya, serangan Belanda telah dibalas dengan penyembelihan besar-besaran atas Belanda, jenderal Belanda sudah dibunuh, dan tentaranya melarikan diri dengan kacau balau. Menurut kelihatan, sungguh-sungguh tentara Belanda sudah dihancur leburkan.

Kejadian ini telah menarik perhatian seluruh dunia kepada kerajaan Acheh yang merdeka dan berdaulat lagi kuat itu. Presiden Amerika Serikat, Ulysses S. Grant sengaja mengeluarkan satu pernyataan yang luar biasa menyatakan negaranya mengambil sikap neutral yang adil, yang tidak memihak kepada Belanda atau Acheh, dan ia meminta agar negara-negara lain bersikap sama sebab ia takut perang ini bisa meluas.

Para hari 25 Desember (hari natal), 1873, Belanda menyerang Acheh lagi, untuk kali yang kedua, dengan tentara yang lebih banyak lagi, yang terdiri dari Belanda dan Jawa, dan dengan ini mulailah apa yang dinamakan oleh majalah Amerika “Harper’s magazine” sebagai “perang seratus tahun abad ini”. Satu perang penjajahan yang paling berlumur darah, dan paling lama dalam sejarah manusia, dimana setengah dari bangsa kami sudah memberikan korban jiwa untuk mempertahankan kemerdekaan kami. Perang kemerdekaan ini sudah diteruskan sampai pecah perang dunia ke-II, delapan orang nenek dari yang menandatangani pernyataan ini sudah gugur sebagai syuhada dalam mempertahankan kemerdekaan kami ini. Semuanya sebagai Wali Negara dan Panglima Tertinggi yang silih berganti dari negara islam Acheh Sumatra.

Tetapi sesudah Perang Dunia ke-II, ketika Hindia Belanda katanya sudah dihapuskan, tanah air kami Acheh Sumatra, tidaklah dikembalikan kepada kami, sebenarnya Hindia Belanda belum pernah dihapuskan. Sebab sesuatu kerajaan tidaklah dihapuskan kalau kesatuan wilayahnya masih tetap dipelihara -sebagai halnya dengan Hindia Belanda, hanya namanya saja yang ditukar dari “Hindia Belanda” menjadi “Indonesia” Jawa, sekarang bangsa Belanda telah digantikan oleh bangsa Jawa sebagai penjajah, bangsa Jawa itu adalah satu bangsa asing dan bangsa seberang lautan kepada kami bangsa Acheh-Sumatera. Kami tidak mempunyai hubungan sejarah, politik, budaya, ekonomi dan geografi (bumi) dengan mereka itu. Kalau hasil dari penaklukan dan penjajahan Belanda tetap dipelihara bulat, kemudian dihadiahkan kepada bangsa Jawa, sebagaimana yang terjadi, maka tidak boleh tidak akan berdiri satu kerajaan penjajahan Jawa diatas tempat penjajahan Belanda. tetapi penjajahan itu, baik dilakukan oleh orang Belanda, Eropah yang berkulit putihm atau oleh orang Jawa, Asia yang berkulit sawo matang, tidaklah dapat diterima oleh bangsa Acheh, Sumatera.

“Penyerahan kedaulatan” yang tidak sah, illegal, yang telah dilakukan oleh penjajah lama, Belanda, kepada penjajah baru, Jawa, adalah satu penipuan dan kejahatan politik yang paling menyolok mata yang pernah dilakukan dalam abad ini: sipenjajah Belanda kabarnya konon sudah menyerahkan kedaulatan atas tanah air kita Acheh, Sumatera, kepada satu “bangsa baru” yang bernama “Indonesia”. Tetapi “Indonesia” adalah kebohongan, penipuan, dan propaganda, topeng untuk menutup kolonialisme bangsa Jawa. Sejak mulai dunia terkembang, tidak pernah ada orang, apalagi bangsa, yang bernama demikian, di bagian dunia kita ini. Tidak ada bangsa yang bernama demikian di kepulauan Melayu ini menurut istilah ilmu bangsa (ethnology), ilmu bahasa (philology), ilmu asal budaya (cultural antropology), ilmu masyarakat (sociology) atau paham ilmiah yang lain, “Indonesia” hanya merek baru, dalam bahasa yang paling asing, yang tidak ada hubungan apa-apa dengan bahasa kita, sejarah kita, kebudayaan kita, atau kepentingan kita, “Indonesia” hanya merek baru, nama pura-pura baru, yang dianggap boleh oleh Belanda untuk menggantikan nama “Hindia Belanda” dalam usaha mempersatukan administrasi tanah-tanah rampasannya di dunia Melayu yang amat luas ini, sipenjajah Jawapun tahu dapat menggunakan nama ini untuk membenarkan mereka menjajah negeri orang di seberang lautan. Jika penjajahan Belanda adalah salah, maka penjajahan Jawa yang mutlak didasarkan atas penjajahan Jawa itu tidaklah menjadi benar. Dasar yang paling pokok dari hukum internasional mengatakan: “Ex Injuria Jus Non Oritur”- Hak tidak dapat berasal dari yang bukan hak, kebenaran tidak dapat berasal dari kesalahan, perbuatan legal tidak dapat berasal dari illegal.

Meskipun demikian, bangsa Jawa tetap mencoba menyambung penjajahan Belanda atas kita walaupun Belanda sendiri dan penjajah penjajah barat lainnya sudah mundur, sebab seluruh dunia mengecam penjajahan. Dalam masa tiga-puluh tahun belakangan ini kami bangsa Acheh, Sumatera, sudah mempersaksikan betapa negeri dan tanah air kami telah diperas habis-habisan oleh sipenjajah Jawa; mereka sudah mencuri harta kekayaan kami; mereka sudah merusakkan pencaharian kami; mereka sudah mengacau pendidikan anak kami; mereka sudah mengasingkan pemimpin-pemimpin kami; mereka sudah mengikat bangsa kami dengan rantai kezaliman, kekejaman, kemiskinan, dan tidak peduli: masa hidup bangsa kami pukul rata 34 tahun dan makin sehari makin kurang. Bandingkan ini dengan ukuran dunia yang 70 tahun dan makin sehari makin bertambah, sedangkan Acheh, Sumatera, mengeluarkan hasil setiap tahun bagi sipenjajah Indonesia-Jawa lebih 15 milyar dollar Amerika yang semuanya dipergunakan untuk kemakmuran pulau Jawa dan bangsa Jawa.

Kami, bangsa Acheh, Sumatera, tidaklah mempunyai perkara apa-apa dengan bangsa Jawa kalau mereka tetap tinggal di negeri mereka sendiri dan tidak datang menjajah kami, dan berlagak sebagai “Tuan” dalam rumah kami, mulai saat ini, kami mau menjadi tuan di rumah kami sendiri; hanya demikian hidup ini ada artinya, kami mau membuat hukum dan undang-undang kami sendiri; yang sebagai mana kami pandang baik; menjadi penjamin kebebasan dan kemerdekaan kami sendiri; yang mana kami lebih dari sanggup; menjadi sederajat dengan semua bangsa-bangsa di dunia; sebagaimana nenek moyang kami selalu demikian, dengan pendek: Menjadi berdaulat atas persada tanah air kampung kami sendiri.

Perjuangan kemerdekaan kami penuh keadilan, kami tidak menghendaki tanah bangsa lain- bukan sebagai bangsa Jawa datang merampas tanah kami, tanah kami telah dikaruniai Allah dengan kekayaan dan kemakmuran, kami berniat memberi bantuan untuk kesejahteraan manusia sedunia, kami mengharapkan pengakuan dari anggota masyarakat bangsa-bangsa yang baik, kami mengulurkan persahabatan kepada semua bangsa dan negara dari ke-empat penjuru bumi.

ATAS NAMA BANGSA ACHEH, SUMATERA, YANG BERDAULAT.

Tengku Hasan Muhammad Di TiroKetua, Angkatan Acheh, Sumatera Merdeka dan Wali Negara.

Acheh, Sumatera, 4 Desember 1976

Sumber : http://www.asnlf.com/asnlf_int/politics/declaration41276my.htm

RMS

Onafhankelijkheidsverklaring

SURAT PROCLAMASI

Memenuhi kemauan jang sungguh, tuntutan dan desakah rakjat Maluku Selatan, maka dengan ini kami proklamir KEMERDEKAAN MALUKU SELATAN, defacto de jure, jang berbentuk Republik, lepas dari pada segala perhubungan ketatanegaraan Negara Indonesia Timur dan R.I.S., beralasan N.I.T. sudah tidah sanggup mempertahankan kedudukannja sebagai Negara Bahagian selaras dengan peraturan2 Mutamar Den Pasar jang masih sjah berlaku, djuga sesuai dengan keputusan Dewan Maluku Selatan tertanggal 11 Maret 1947, sedang R.I.S. sudah bertindak bertentangan dengan keputusan2 K.M.B. dan Undang2 Dasarnja sendiri.

Ambon, 25 April 1950

PEMERINTAH MALUKU SELATAN

ONAFHANKELIJKHEIDS VERKLARING

Ter voldoening aan de waarachtige wil, eis en aandrang van het Volk der Zuid-Molukken, proclameren wij hierbij de ONAFHANKELIJKHEID de facto en de jure VAN DE ZUID-MOLUKKEN met de politieke vorm van een Republiek, los van elke staatkundige Verenigde Staten van Indonesië, op grond van het feit dat de deelstaat Oost Indonesië niet in staat is zich als deelstaat te handhaven in overeenstemming met de regelingen van de Den Pasar- Conferentie, welke nog wettig van kracht zijn, alsmede in overeenstemming met het Besluit van de Zuid-Molukkenraad van 11 maart 1947, terwijl voorts de Regering van de Verenigde Staten van Indonesië gehandeld heeft in strijd met R.T.C.-overeenkomsten en haar grondwet.

Ambon, 25 April 1950

REGERING DER ZUID-MOLUKKEN

Sumber : http://www.geocities.com/BourbonStreet/Square/7460/onaf.html

PAPUA

PROKLAMASI

Kepada seluruh rakyat Papua, dari Numbai sampai ke Merauke, dari Sorong sampai ke Balim (Pegunungan Bintang) dan dari Biak sampai ke Pulau Adi.

Dengan pertolongan dan berkat Tuhan, kami memanfaatkan kesempatan ini untuk mengumumkan pada anda sekalian bahwa pada hari ini, 1 Juli 1971, tanah dan rakyat Papua telah diproklamasikan menjadi bebas dan merdeka (de facto dan de jure ).

Semoga Tuhan beserta kita, dan semoga dunia menjadi maklum, bah-wa merupakan kehendak yang sejati dari rakyat Papua untuk bebas dan merdeka di tanah air mereka sendiri dengan ini telah dipenuhi.

Victoria, 1 Juli 1971

Atas nama rakyat dan pemerintah Papua Barat,

Seth Jafet Rumkorem

(Brigadir-Jenderal)

Sumber : http://w3.rz-berlin.mpg.de/~wm/PAP/GJA-bin-kejora.html

Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat (ref)

Deklarasi Kemerdekaan adalah suatu akta dari Kongres Kontinental Kedua yang diadopsi pada 4 Juli 1776 yang menyatakan bahwa Tiga Belas Koloni merdeka dari Britania Raya. Deklarasi ini, yang sebagian besar ditulis oleh Thomas Jefferson, menjelaskan pembenaran atau justifikasi untuk melepaskan diri, dan merupakan pengembangan dari Resolusi Lee tertanggal 2 Juli yang untuk pertama kalinya menyatakan kemerdekaan AS. Salinan deklarasi ini ditandatangani oleh para delegasi pada 2 Agustus dan saat ini dipamerkan di National Archives and Records Administration di Washington, D.C. Deklarasi ini dianggap sebagai salah satu dokumen pendirian Amerika Serikat dan tanggal 4 Juli dirayakan sebagai Hari Kemerdekaan.