Melihat Perspektif banyak kalangan terhadap naiknya BBM

Minggu, 16 Juni 2013 

Oleh : Muhammad Yasin Fadilah

Kecewa, itulah kata yang pertama kali dikeluarkan ketika pemerintah membuat kebijakan untuk menaikkan BBM menjadi Rp.6.500/liter. Pikiran pertama dampak negatif dari naiknya BBM di inonesia menurut hasil obrolan saya dengan beberapa masyarakat kecil ini berdampak naiknya semua harga pokok dan harga lainya sedangkan survey kedua saya jatuh pada para Buruh pabrik yang berpenghasilan tetap semisal Rp 2,2 jt/bulan otomatis yang akan terjadi banyak nya barang produsen yang beredar dipasaran dan semakin sedikitnya para pembeli dikarenakan faktor input menuju output permasalahan BBM tersebut. Logikanya, para buruh  berpenghasilan tetap dan apabila dalam sebulan biasanya para buruh membeli barang habis Rp 700 rb maka akan naik semisal menjadi Rp 1 jt dan sedangkan gaji tidak naik maka yang terjadi si buruh terebut akan mengurangi pengeluaran yang mereka biasanya lakukan setiap bulan dan secara tidak langsung mengurangi pembeli dan terjadi penumpukan barang di pasar.

Sedangkan dilihat dari perspektif golongan menengah ke atas merasa cuek dan merasa tidak terjadi masalah sedikitpun atau dampak apapun terhadap pengeluaran yang setiap bulan mereka lakukan paling sekitar beberapa orang saja yang menggerutu tentang naiknya harga BBM tersebut. Disisi lain bagi para kaum menengah ke atas biasanya mengeluarkan pengeluaran yang tak dijangkau.

Dilihat dari perspektif Pemerintahan banyak gejolak didalam kenaikan BBM tersebut bagi peneliti politik sebagian besar setuju dan tidak setuju dan berbagai alasan diantaranya :

1. BBM ini bisa menguntungkan partai PD yang menaikkan harga BBM demi mendapatkan benefit yang berlimpah dengan kata lain biaya BBM yang naik tersebut akan menyimpan uang KAS untuk partai tersebut dan dasar fundamental statement tersebut dilihat dari pengalaman pemilu tahun 2009 presiden menaikkan harga BBM dan partai PD yang dinaungi presiden memenangkan pemilu tahun tersebut.

2. dari sisi para pakar ekonomi kenaikkan BBM tersebut bisa menambah pundi-pundi KAS negara indonesia yang selama ini dihabiskan untuk kalangan yang tidak tepat sasaran artinya dampak naiknya harga BBM akan menimbulkan anggaran tahunan negara akan menjadi SURPLUS tidak menjadi DEFISIT tapi akan ada inflasi besar-besaran ini dikarenakan tahun 2015 indonesia akan menjadi tuan rumah perdagangan bebas global baik di asia maupun benua eropa dan arab.

Dilihat dari perspektif masyarakat timur khusunya BBM tersebut tidak masalah naik menjadi berapa saja. itu dikarenakan sebelum berita BBM akan naik rata-rata masyarakat papuan dan timur pedalaman khusunya membeli BBM seharga RP 50.000-Rp.80.000/liter ini dikarenakan jarangnya pasokan bensin yang teratur padahal kota-kota ditimur sering membayar pajak untuk subsidi tersebut.

“Boleh BBM naik berapa saja harganya asalkan pasokan BBM ke daerah timur selalu ada stock dan segera ringkus banyaknya penimbunan BBM yang membuat kelangkaan di setiap SPBU di daerah timur”

IRONIS melihat nya, kelangkaan yang menjadi sebuah pelajaran sebenarnya bagi para pejabat dan petinggi pemerintah yang lain.

Semoga Bermanfaat Thanks

 

 

Penulis

Muhammad Yasin Fadilah 

Advertisements