Ketika sang kacang lupa pada kulitnya

Rabu, 12 Juni 2013

Disusun Oleh : Muhammad Yasin Fadilah Image

Sekian lama berjuang untuk sebuah deklarasi kesuksesan, sekian lama pula perjuangan yang kita alami dilewatkan dengan berbagai pelajaran, berbagai harapan, dan juga keinginan dan tekad penuh untuk bisa melewati segla batu kerikil yang menghadang baik didepan yang non-abstrak maupun dibelakang yang notabene nya abstrak.

Tapi, setingkali ketika kita sudah mencapai kejayaan,mapan dan kesuburan yang diidam-idamkan sejak dulu seringkali seseorang lupa pada sebuah pengalaman pahit yang dialamniya serta aktor pembawa jalan kesuksesan tersebut. Ini bisa jadi bahan pelajaran buat kalian semua yang masih bisa berfikiran jernih artinya masih menjadi tanah merah yang belum mengeras menjadi tanah liat agar supaya tidak mengalami hal tersebut bila mencapai kesuksesan nanti baik di bidang pemerintahan atau apapun.

Dulu, apapun yang diperintahkan orang tua sering ditaati anaknya maka ini juga dampak dari arus globalisasi yang tak terasa jamahnya sedikitpun tapi sekarang segala perintah orang tua bisa dibantah dikarenakan tingkah laku jaman anak sekarang khusunya di indonesia bercondong pada budaya barat yang notabene nya berbeda. Saya sangat menyesalkan hal tersebut identitas masyarakat indonesia yang kental dengan budaya seakan-akan hilang tak terusik seiring berjalanya waktu. IRONIS ! maka saya khawatir saya analisis ada kemungkinan nanti pada saat anak remaja lebih mengikuti trend dari negara barat justru kalangan barat sekarang sedang berbondong-bondong mempelajari budaya kita saya ambil contoh “Harlem Shake” yang sedang menjadi trend kalangan anak muda baik di indonesia maupun negara lain tapi anda lihat trend di negara barat saat ini sebagian kaum barat mempelajari angklung,musik dangdut yang berasal dari indonesia budaya indonesi, Harusnya kalangan remaja kita yang melestarikan. Anda tahu riset yang saya temukan dari berbagai sumber berita yang saat ini beredar dikalangan anak remaja indonesia saat ini, sebagian musik khas budaya indonesia jarang dilestarikan oleh kalangan remaja saat ini mereka lebih condong mengikuti musik barat dan malah addicted terhadap musik tersebut dan merasa gengsi ketika musik budaya indonesia dimainkan oleh temanya.

Meskipun demikian masih ada bebrapa kalangan remaja yang masih mau melstarikan budaya musik budaya khasi indonesia meskipun hanya segelitir orang atau kalangan remaja saja tapi menurut saya membanggakan mereka tidak lupa tidak lupa pada budaya mereka budaya yang menjiwai para orang tuanya dulu dan tidak lupa akan sejarah karena “Sebuah negara bisa maju dan sukses apabila rakyatnya tahu dan mengenang sejarah lahirnya negara mereka” saya masih ingat kata-kata tersebut berasal dari dosen saya dan nilai sejarah tersebut kalau diprosentasekan menjadi nilai yang sangat tak ada duanya itu yang menjadi patokan saya menulis artikel ini guna mengingatkan para kalangan remaja agar tidak terlalu terseret akan arus globalisasi yang tak terkontrol ini dan agar kalagan remaja saat ini bisa mewariskan budaya yang semestinya anak dan cucu kita tahu tapi mereka tidak mengetahui hal tersebut itu akan menjadi penyesalan.

Bukan maksud saya mengintervensi kalangan remaja agar tidak mengikuti perkembangan jaman, TIDAK! tapi perkembangan jaman boleh diikuti asalkan tidak terjerumus didalamnya dan tidak lupa pada kacangnya. Kalau sudah terjadi hal demikian maka bisa jadi nanti anak cucu kita akan mengalami disintegrasi budaya dan menyebabkan kalangan remaja kehilangan semangat perjuangan dan sejarah yang dulu leluhur kita dan kita buat.

Selamat Membaca, Semoga bermanfaat !

 

Muhammad Yasin Fadilah #MYF 

 

Advertisements

Keindahan Sebuah Perjuangan Bila Diakhiri Dengan Kisah Manis

Oleh : Muhammad Yasin Fadilah

Selasa,4 Juni 2013

Perjuangan bermakna kerja keras,tidak malas, giat, rajin, menemukan sebuah kerikil dijalan dan akhirnya terpaku pada kata SUKSES. Apabila seseorang meraih sukses maka ada segelintir perjuangan yang mereka lewati dengan mulus walaupun dijalan banyak penghambat tapi mereka tetap bertahan dan bisa melewati kerikil-kerikil tersebut. Sukses, sepertinya setiap insan manusia yang terlahir bertujuan meraih kesukesan tapi kerap enggan melewati perjuangan.Mengapa?

Makna kata perjuangan ini sering kali dimaknai dalam 2 hal, yakni hal positif dan hal negative dari perjuangan tersebut. Makna positif tersebut menimbulkan kesuksean seseorang dalam melewati sebuah hambatan,  sedangkan makna negative dari perjuangan adalah seringkali mereka yang berjuang mati-matian memaksakan demi melewati hambatan untuk mencapai sukses gagal ditengah jalan dan akhirnya mengalami trauma yyang mendalam sehingga enggan berjuang kembali dan memiliki rasa malas.

Faktot manusia rata-rata enggan berjuang mati-matian karena disebabkan :

  • Pengalaman seseorang yang buruk sehingga orang yang tahu menahu masalah tersebut enggan mengulangi kebobrokan temannya “yang sudah biarlah sudah, jangan terlalu memaksakan”.
  • Biasanya orang takut memperjuangkan hal yang mereka anggap positif maka yang timbul adalah hal negative yang mengganjal mereka sukar dapatkan.
  • Didalam ilmu pengantar ekonomi dijelaskan bahwa setiap kemajuan seseorang pasti aka nada kemunduran dan hal itu harusnya ditanggapi dengan  baik bbahwa kemunduran tersebut bisa cepat terselesaikan apabila ingin mendapatkan kejayaan lagi sama halnya dengan Negara apabila terkena dampak inflasi besar-besaran maka Negara tersebut harusnya sudah mempersiapkan agar supaya tidak mengalami masa kemerosotan jangka panjang (Antisipasi/Rencana yang matang) ungkap Bpk Edi Guridno.
  • Dosen ilmu hukum saya juga tidak lupa mengingatkan ini dikarenakan semakin banyak nya orang yang memulai perjuangan dan tandas ditengah jalan tanpa ada perlawanan apapun “jadikan sebauh kemerosotan baik dalam usaha maupun hal yang lain itu sebagai pelajaran yang membuat kita termotivasi dan anggaplah kemerosotan kita tersebut sebagai ilmu pengetahuan yang baru belajar di sekolah/universitas, apabila menimba ilmu pasti aka nada nilai uang yang hharus dibayar karena kita bisa mendapatkan hak jika ada kewajiban dan kewajiban nyya adalah membayar ilmu tersebut” ungkap Bpk Drs.Teten Naziruddin.  

Maka dari itu perubahan sifat karakter manusia yang semakin lama semakin tidak karuan antara naik ataupun turun bisa kita kendalikan apabila kita mempunyai antisipasi/rencana yang matang logikanya seperti ini apabila kita memulai sebuah usaha otomatis kita harus mempelajari dulu dasar fundamental ilmu kewirausahaan tersebut baik dalam teoritis maupun praktek, apabila memulai usaha tidak dibarengi pengalaman yang cukup maka yang terjadi adalah NOL besar, bisa saja seorang wirausaha memulai titik karirnya tersebut dengan atau tanpa ilmu yg cukup tapi mereka menguasai praktek maka ilmu yang belum ada tersebut lambat-laun akan berbarengan dengan pengalaman di dunia sesungguh nya yakni praktek. Kesalahan fatal yang sering terjadi sebenarnya  pengusaha belum menguasai program yang mereka buat dengan cukup dan alhasil apabila terjun langsung maka proses yang akan terjadi lambat. Sebaliknya, apabila sudah menguasai bidangnya lambat-laun akan segera selesai satu persatu meski banyak kerikilnya.

 

Sulitnya Orang Yang Bisa Di Percaya Pada Abad Ini Dan Negeri Ini

Oleh : Muhammad Yasin Fadilah

Rabu, 08 Mei 2013

Bekasi, Akhir-akhir ini saya seringkali mendengar kata kepercayaan yang sering dibahas dan sering diperdebatkan baik di Acara Televisi maupun obrolan masyarakat. Kebohongan ini yang BIADAB seringkali muncul dikalangan para pejabat yang KORUP maunpun dikalangan masyarakat.

Ironis, seharusnya hal ini tidak sampai terjadi. Sekarang ini marak kebohongan terjadi tindakan para oknum polisi semisal, dengan Motto nya yang menggebor-geborkan siap melayani rakyat apabila perlu dibantu saya katakan itu BULLSHIT, kalo anda tidak percaya silahkan apabila anda kehilangan motor segera datang ke kantor polisi dan apabila anda sudah melapor, polisi pasti bilang “yang sabar bpk/I akan segera kami carikan kendaraan anda sampai ketemu, kami akan bantu semaksimal mungkin” dan  itu kurang sedikit “Bisa Dibantu Kalo Ada DUIT”.Biadab, tapi penjaminan tidak pasti, padahal para polisi sekarang sudah tau kemana para pencuri motor itu akan membawa sepeda motor curian tersebut.(Berasal dari pengalaman kakak saya dan teman saya “MIRIS”)

Kali ini saya sendiri mengalami hal yang serupa dengan orang-orang yang sudah mengalaminya mungkin,saya menceritakan ini agar supaya para pelaku dan semua orang khususnya menyadari setiap manusia itu saudara,kita itu makhluk sosial yang harusnya saling menolong bukan saling menolong tapi ADA UDANG DIBALIK BATU.

Berawal dari rencana saya mengajak teman jalan ke sebuah tempat rekreasi di bogor, karena hari tersebut kami libur kuliah dan minggu depannya UTS saya sarankan teman saya untuk refreshing sejenak sebelum menghadapi ujian tengah semester minggu depan biar fresh.

Kebetulan saya ngekos di suatu daerah dijakarta. Pertemuan kami atur dan kosan saya yang menjadi tempat berkumpul sambil Briefing nunggu yang belum datang biar ada tempat rehat. Satu persatu teman saya berdatangan dan Pukul 14.45 WIB kami berangkat dengan suasana riang bercampur bingung karna minggu depan sudah UTS dan gak ada persiapan sedikit pun, maklum anak kosan yang seringnya keluyuran.hehe

Kira-kira perjalanan 2 jam kami sampai di bogor diperjalanan sangat banyak sekali kendaraan yang sengaja pergi untuk berekreasi juga karena libur tanggal merah. Setengah jam kami lewati macet dengan tawa riang yang membuat tenggorokan rasanya kering.

Saya kaget ketika anak-anak sedang asik ngobrol tiba-tiba ada seorang bapak yang menunjuk mobil kami dan meneriaki kami, saya pun bingung kenapa bapak tersebut menunjuk-nunjukan tangan nya ke mobil kami. Saya pikir ada masalah disalah satu bagian mobil saya, lantas saya meminggikan mobil saya di depan bengkel mobil kecil daerah sana, kaget tak ketulungan saya turun untuk mengecek ban mobil ternyata dekat ban mobil depan saya sudah ada orang yang melihat keadaan mobil saya dan bilang “Pitston rem nya macet bang, harus dibongkar dulu takut ada apa apa” saya lama berfikir dan saya pikir mobil saya belum lama saya beli masa pitstonya sudah macet, lagipula saya jalankan mobilnya rem dan gas nya stabil.

Dari sana saya sadar, saya gak terlalu mengerti mobil tapi saya tau bagian-bagian mobil yang biasanya berakibat fatal kalo rusak. Saya coba jalankan sedikit demi sedikit untuk mastiin keluar gas gak dari rem roda saya dan hasilnya NIHIL, mobil saya baik-baik saja saya pikir.

Lama kelamaan saya berfikir lagi dan menanyakan pada teman saya yang lumayan ngerti mobil juga hal yang sama dia lontarkan pada saya (sependapat), mungkin bukan saya berperisangka buruk terhadap orang, tapi saya pikir ini sudah diatur. Bapak-bapak yang menunjuk mobil saya bilang ada asap di ban saya dan letak posisi bapak tersebut tidak jauh dari tempat saya mengecek keadaan mobil saya(Depan bengkel kecil tersebut). Otak saya pun berputar ini mungkin rencana si tukang bengkel agar supaya dia dapet uang dengan cara tersebut, itu yang sering ada dibenak saya.

Mudah-mudahan prasangka buruk saya tidak benar adanya tapi, apabila benar diharapkan berhati-hati apabila ada kejadian yang sama dengan kejadian saya.

Semoga Bermanfaat Dan Menjadi Orang Yang Bisa Mengantisipasi Setiap Kajahatan Dan Saya Harap Gak ada kejadian penipuan lagi. #Aaamiin

SYIRIK ITU GAK BAIK BUNG HAHA

Syirik yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Umumnya menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah, yaitu hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah disamping berdo’a kepada Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdo’a dan sebagainya kepada selainNya.

Karena itu, barangsiapa menyembah selain Allah berarti ia meletakkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak, dan itu merupakan kezhaliman yang paling besar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”[ Luqman: 13]

Allah tidak akan mengampuni orang yang berbuat syirik kepadaNya, jika ia meninggal dunia dalam kemusyrikannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.[An-Nisaa’: 48]

Surga-pun Diharamkan Atas Orang Musyrik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan Surga kepadanya, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun”[ Al-Maa’idah: 72]

Syirik Menghapuskan Pahala Segala Amal Kebaikan.
Allah Azza wa Jalla berfirman.

“Artinya : Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”[Al-An’aam: 88]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”[Az-Zumar: 65]

Orang Musyrik Itu Halal Darah Dan Hartanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : …Maka bunuhlah orang-orang musyirikin dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian…”[At-Taubah: 5]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq melainkan Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka telah melakukan hal tersebut, maka darah dan harta mereka aku lindungi kecuali dengan hak Islam dan hisab mereka ada pada Allah Azza wa jalla”[2]

Syirik adalah dosa besar yang paling besar, kezhaliman yang paling zhalim dan kemungkaran yang paling mungkar.

JENIS-JENIS SYIRIK.

Syirik Ada Dua Jenis : Syirik Besar dan Syirik Kecil.

[1]. Syirik Besar
Syirik besar bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam Neraka, jika ia meninggal dunia dan belum bertaubat daripadanya.

Syirik besar adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah atau mendekatkan diri kepadanya dengan penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah, baik untuk kuburan, jin atau syaitan, atau mengharap sesuatu selain Allah, yang tidak kuasa memberikan manfaat maupun mudharat.

Syirik Besar Itu Ada Empat Macam.

[a]. Syirik Do’a, yaitu di samping dia berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia juga berdo’a kepada selainNya. [3]

[b]. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala [4]

[c]. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah [5]

[d]. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan. [6]

[2]. Syirik Kecil.
Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan wasilah (perantara) kepada syirik besar.

Syirik Kecil Ada Dua Macam.

[a]. Syirik Zhahir (Nyata), yaitu syirik kecil yang dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Dalam bentuk ucapan misalnya, bersumpah dengan nama selain Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik”[7]

Qutailah Radhiyallahuma menuturkan bahwa ada seorang Yahudi yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian melakukan perbuatan syirik. Kamu mengucapkan: “Atas kehendak Allah dan kehendakmu” dan mengucapkan: “Demi Ka’bah”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para Shahabat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan, “Demi Allah Pemilik Ka’bah” dan mengucapkan: “Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu”[8]

Syirik dalam bentuk ucapan, yaitu perkataan.
“Kalau bukan karena kehendak Allah dan kehendak fulan”
Ucapan tersebut salah, dan yang benar adalah.
“Kalau bukan karena kehendak Allah, kemudian karena kehendak si fulan”

Kata (kemudian) menunjukkan tertib berurutan, yang berarti menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah.[9]

[b]. Syirik Khafi (Tersembunyi), yaitu syirik dalam hal keinginan dan niat, seperti riya’ (ingin dipuji orang) dan sum’ah (ingin didengar orang) dan lainnya.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil. “Mereka (para Shahabat) bertanya: “Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah?” .Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Yaitu riya’”[10]

Perbedaan syirik besar dan syirik kecil.
Syirik Akbar atau syirik besar adalah syirik yang membatalkan syahadat dan keislaman seseorang, sedangkan syirik ashghar adalah tindakan maksiat yang oleh Allah dan Rasulnya dinamakan dengan syirik tetapi tidak membatalkan syahadat dan keislaman seseorang.
Contoh syirik akbar adalah berdo’a kepada selain Allah, menyembelih binatang untuk berhala, mentaati perintah seseorang untuk bermaksiat dan lain-lain.
Adapun contoh syirik ashghar adalah bersumpah dengan nama selain Allah, sebagaimana sabda Rasulullah
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ وَأَشْرَكَ
Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah kufur atau syirik. (HR Abu dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad)
Setelah melihat batasan dan contoh, kita bisa lebih jauh membedakan antara syirik besar dan syirik kecil;
1.Syirik besar membatalkan keislaman, syirik kecil tidak
2.Syirik besar menyebabkan seseorang masuk neraka selama-lamanya syirik kecil tidak
3.Syirik besar menyebabkan rusaknya semua amal, syirik kecil tidak
4.Cara bertaubat dari syirik akbar dengan bersyahadat lagi, syirik ashghar cukup dengan istighfar
5.Syirik besar mengharuskan adanya keterputusan secara total hubungan cinta kasih dari orang mukmin, sedangkan syirik kecil tidak total, tetap dicintai karena imannya dibenci kemaksiatannya.
Akibat Syirik:
Syirik tidak diridlai Allah, kedzaliman yang besar dan mengakibatkan bencana di dunia dan neraka di akhirat. Orang musyrik akan menyesal di akhirat, tuhan yang mereka sekutukan tidak dapat menolongnya dari azab Allah . Kaum Nabi Nuh ditimpa bencana berupa air bah yang menenggelamkan dunia . Dalam hal ini Allah berfirman:
Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, ” Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim. ” .

BERTAUBAT DARI SYIRIK
Adapun bertaubat dari perbuatan kedua jenis syirik tersebut tentunya disesuaikan dengan jenis syiriknya. Bila bertaubat dari syirik akbar tentunya dengan masuk Islam kembali, karena pada hakekatnya pelakunya telah murtad (keluar dari Islam). Sedangkan bretaubat dari syirik ashghor ialah dengan meminta ampun kepada Allah Ta’ala dan menyempurnakan tauhidnya sehingga terjauh dari kedua jenis syirik tersebut. Maka kita harus rajin-rajin mempelajari tauhid dan segala prebuatan syirik yang akan merusakkannya. Dan setiap saat kita harus bertaubat dari perbuatan syirik yang kita ketahui atau yang kita tidak ketahui.

Dosa Syirik:
Syirik adalah dosa besar, karena:
1. syirik adalah tindakan penyerupaan makhluk dengan khaliq dalam masalah-masalah ketuhanan (uluhiyah). Mensejajarkan (menyekutukan) sesuatu bersama Allah adalah tindak penyerupaan sesuatu itu dengan Allah. Ini adalah kedzaliman yang besar. Allah SWT berfirman [إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ] (sesungguhnya syirik itu benar-benar merupakan kedzaliman yang besar). Dzalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya dan mempersembahkannya bukan kepada yang berhak.
2. Allah mengabarkan bahwa Dia tidak mengampuni dosa syirik, jika ia tidak bertaubat. Allah SWT berfirman: [إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا ] (Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar).
3. Allah mengabarkan bahwa Dia mengharamkan surga bagi orang musyrik dan bahwasanya ia akan kekal dan dikekalkan di neraka jahannam. Allah berfirman: [إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ ] (\\\\\\\\\\\\\\\” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun).
4. Allah memberitakan bahwa syirik itu melenyapkan pahala semua amalan. Allah berfirman: [وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ] ( Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan), juga firman-Nya: [وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ] (Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: \\\\\\\\\\\\\\\”Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi) dsb.
Sikap Yang Dianjurkan Dalam Menghadapi Kaum Musyrik
Thema Al-Qur’an tentang syirik adalah thema yang sangat serius, mengandung pesan-pesan yang sangat berharga, nasehat-nasehat bijak demi kebaikan dan kesejahteraan ummat manusia. Masalah syirik adalah masalah yang memamng serius, oleh karenanya haruslah kita hadapi dengan serius dan penuh kesabaran. Di bawah ini adalah sikap-sikap yang dianjurkan dalam menghadapi kaum musyrikin sesuai ajaran Al-Qur’an:
1. Nabi Ibrahim harus dijadikan contoh, seorang nabi yang hanif tidak musyrik , selalu berdakwah dengan hikmah , mau’idhah hasanah dan logika sehat .
2. Mencari titik temu dengan kaum musyrikin dan ahlul kitab untuk bertauhid saja (dialog / dakwah billisan)
3. Aktif menyuarakan tauhid dan menginformasikan kesesatan-kesesatan dan kelemahan syirik dan akibatnya .
4. Ikrar tauhid di hadapan Allah dan manusia
5. Tidak menikahkan kaum mu’min dengan kaum musyrikin,baik laki-laki mauun perempuan

Kesimpulan:
Dari uraian tersebut di atas kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Syirik adalah kedzalima yang sangat besar, oleh karenanya bisa melenyapkan segala kebaikan, dosanya tidak diampuni [kecuali jika ia bertaubat], dan di neraka ia akan kekal dan dikekalkan
2. Syirik menumbuhkan sifat-sifat buruk, seperti : rakus, tamak, kejam, keji, mungkar, dengki, penakut, dan keberanian membikin syari’at sendiri.
3. Haram menikah dengan orang musyrik, baik laki-laki maupun perempuan.
4. Kita diperintahkan mencari titik temu dengan ahli kitab, agar mereka kembali kepada tauhid.
5. Kita diperintahkan aktif menyuarakan tauhid dan membeberkan kesesatan syirik
6. Tuhan yang mereka jadikan sebagai sekutu Allah tidak dapat membela mereka di akhirat
7. Kita diperintah berpaling dari kaum musyrikin, jika mereka tetap membangkang setelah kita peringatkan, dengan tetap mengikuti wahyu Allah.?
8. Orang musyrik dengan kemusyrikannya membikin seribu alasan untuk membenarkan tindakannya.
9. Membunuh anak, adalah kebiasaan orang musyrik dari dahulu sampai sekarang
10. Tauhid mengajarkan kebaikan, kebersihan dan peradaban tinggi
11. Orang musyrik tidak pantas ramaikan masjid
12. Orang musyrik najis, jangan masuk masjid haram
13. Para pendeta dijadikan tuhan dalam masehi
14. Allah akan menangkan tauhid
15. Jangan memohon ampun buat kaum musyrikin
16. Nuh dan kaum musyrikin perlu dibacakan kisahnya
17. Syaitan menguasai penyembahnya
18. Pezina boleh menikah dengan orang musyrik
19. Jika orang tua memaksa syirik, tetap dipergauli dengan baik di dunia, tetapi jangan ditaati ajakannya itu.
DAFTAR PUSTAKA

http://makalah.at.ua/news/2009-02-27-8

http://www.salafyoon.net/aqidah/jenis-jenis-perbuatan-syirik.html

Al-Qur’an al-Karim
Al-Qur’an Terjemah Depag
Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, Al-Ma’rifah, 1990
Abu Abdillah al-Qurthubi, Tafsir al-Qurthubi, Dar al-kutub al-Ilmiyah
Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim (Tafsir Ibnu Katsir), Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi
Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq al-Makhtum, Dar as-Salam, Riyadl, 1414 H / 1993 M
Shalih Fauzan al-Fauzan, Kitab at-Tauhid, Muassasah al-Haramain al-Khairiyyah, Kingdom of Saudi Arabia

KAUM BORJUIS DAN KAUM PROLETARIAT; SOSIALISME DAN KEBEBASAN

Selasa, 30 April 2013

Muhammad Yasin Fadilah

‘Menunggu sampai sebuah partai beranggotakan setengah jumlah pemilih plus satu merupakan programnya jiwa-jiwa yang pengecut yang menanti datangnya sosialisme yang lahir dari titah raja dengan bantuan tanda tangan dua pendeta.’
(Gramsci dalam La città futura, 11 Februari 1917)

Bahkan dalam tulisan-tulisan paling awalnya, Gramsci menyatakan secara jelas bahwa kaum borjuis dan kaum proletariat merupakan dua tokoh utama dalam sejarah kontemporer. Ini bukan sekedar perkara dua kelas sosial, demikian dikatakannya, namun mengenai dua cara yang berbeda dalam memandang kehidupan dan mengorganisirnya, mengenai dua ‘peradaban.’ ‘Ini melibatkan tak kurang dan tak lebih,’ tulisnya dalam Il Grodo del Popolo pada tanggal 14 Oktober 1916, ‘selain dari pembangunan kembali sebuah peradaban. Peradaban kita, sebuah peradaban yang kita rayakan sampai dengan tahun 1914 dan yang kita warisi secara langsung dari Revolusi Prancis, telah diruntuhkan oleh gejolak perang besar di Eropa, sebuah kejadian yang setara dampaknya dengan revolusi tahun 1789. Ketika itu, berdirilah sistem yang borjuis. Namun. saat ini, sistem itu telah dihancurkan… Segenap nilai manusia, termasuk institusi moral dan legal dari dunia lama, telah dijungkirbalikkan, diprotoli dan dilemahkan secara tanpa bisa diperbaiki. Saat ini, adalah mendesak untuk memproklamirkan diri dan untuk mengimplementasikan sebuah tatanan baru, sebuah fondasi bagi kehidupan kewargaan (civil life).’ Sepanjang periode Perang Dunia Pertama, Gramsci secara tegas menekankan bahwa perang merupakan ‘sebuah konsekuensi dari sistem hak istimewa (system of privilege)’. Kaum borjuis merupakan kelas yang memiliki hak istimewa dan kapitalisme merupakan bentuk ekonomi yang didasarkan pada hak istimewa. Karena itu, perang merupakan ‘sebuah takdirnya borjuis’ (bourgeois fate), meski istilah tersebut bukanlah sebuah hukum yang berlaku secara mutlak. Kaum borjuis-lah yang memegang kekuasaan. Dialah yang memegang kekuatan untuk mempengaruhi Negara dan proses pengambilan keputusan. Selama situasi ini masih ada, maka situasi itu akan, bahkan pasti akan melahirkan politik kelas.

Sebelum fase revolusioner, kaum proletariat hanya bisa berjuang melawan kebijakan-kebijakan yang ada lewat usaha-usaha penggerogotan undang-undang yang ada, dan bukannya dengan mengumumkan undang-undang yang baru. Bahkan, kaum proletariat kadangkala harus bersedia menerima senjata yang diberikan oleh kaum borjuis kepaanya agar bisa merebut dan memperluas posisi-posisi kekuatannya, semua ini bisa tercapai berkat struktur liberal dari rezim borjuis. ‘Liberalisme adalah “sebuah perjuangan demi keadilan” dan “demi kepentingan kaum yang tertindas.” Liberalisme dipertentangkan dengan pembatasan-pembatasan terhadap pikiran. Liberalisme percaya bahwa ide-ide dan opini-opini diperbolehkan untuk saling berjuang di antara mereka, tentu saja dengan tanpa ada pengistimewaan tertentu. Liberalisme yakin akan jalan kemanusiaan dan perkembangannya, serta yakin bahwa krisis-krisis ekonomi tak lain dari sekedar penyeleksian kekacauan-kekacauan dan kekeliruan-kekeliruan yang muncul selama periode kemakmuran. Liberalisme paham bahwa kejahatan tak akan pernah unggul atas kebaikan dan bahwa cara terbaik untuk mengerahkan semua energi manusia ialah dengan memberikan kepada manusia kebebasan penuh untuk bertindak dan bertanggungjawab.’ Namun ternyata, dalam organisasi masyarakat yang borjuis, beberapa institusi –yang tentu saja juga berwatak borjuis- tidak berfungsi sebagaimana kemampuannya dan sebagaimana seharusnya, bahkan meski dalam kerangka batas-batas makna yang dilekatkan oleh kapitalisme padanya. Tugas kaum proletariat ialah ‘untuk terus menekan tatanan yang ada dalam rangka agar bisa memperbaharuinya dan menjadikannya lebih kondusif bagi proses produksi dan bagi peningkatan kemakmuran secara umum. Kaum proletariat harus memberikan tekanan sedemikian rupa sehingga kelompok-kelompok dan individu-individu borjuis, dengan aktivitas mereka yang sungguh-sungguh dalam kerangka kapitalis, bisa berhasil dalam menciptakan kondisi-kondisi kehidupan sosial yang secara mekanis maupun natural lebih kondusif bagi terciptanya pengalihan kekuasaan dari satu kelas ke kelas lain.’
Sejak awal, analisis Gramsci sangat koheren. Bagi Gramsci, Negara adalah ‘organisasi ekonomi dan politik dari kelas borjuis’. Bahkan, negara adalah kelas borjuis itu sendiri. Karena itu, dalam tubuh partai, tak boleh ada keinginan untuk menjalin kerjasama kelas dan penyelesaian konflik-konflik yang semata-mata bersifat formal karena semua ini hanya memperkuat dan melindungi mesin Negara. Jika sebuah partai ingin menjadi organ eksekutif dari kaum proletariat, maka partai tersebut harus bersikap keras pendiriannya secara luar biasa. Namun, ‘kekerasan pendirian ini tidak boleh menciptakan kelembaman’, akan tetapi mendorong yang lain untuk bergerak dan beraksi. Kaum proletariat tidak boleh mengakui kekuasaan eksekutif dari Pemerintah yang bersumber dari Parlemen, namun hanya boleh mengakui kekuasaan organisasi kelasnya sendiri karena hanya organisasi inilah, dan hanya organisasi ini saja, yang sanggup mewakili kepentingan-kepentingan dan cita-citanya. Dan konsep itu harus diperluas, harus diangkat ke atas dan bergerak melampaui batas-batas nasional agar bisa diidentifikasi hukum masyarakat secara umum dari setiap masyarakat manusia. Orang tak boleh mengabaikan keniscayaan historis yang muncul ‘secara niscaya sebagai konsekuensi dari kekuatan mesin, kuantitas barang, perluasan geografis dan kepadatan demografis Negara-negara’ dari rezim kapitalisme. Para negarawan borjuis pastilah akan bisa mengenali tanda-tanda tersebut, terutama saat mereka yakin bahwa kaum proletariat sungguh-sungguh telah siap bagi melakukan perebutan kekuasaan sosial, dan pengambilalihan industri besar dan hak milik atas tanah.
Gramsci telah memulai pembahasan politik yang mendasar selama kehidupannya pada masa-masa perang dan menyajikan kontras historis antara kaum borjuis dan kaum proletariat. Namun justru pada saat pasca-perang-lah, dia melanjutkan analisisnya dengan kejernihan dan ketajaman yang jauh lebih besar dalam kolom-kolom Avanti! dan yang terutama dalam L’Ordine Nuovo. Gramsci berkeyakinan bahwa dengan gerak perkembangan dirinya, kaum borjuis telah berhasil menciptakan persatuan nasional, namun kaum borjuis juga bertanggung jawab karena telah menimbulkan perang saudara yang sangat dicelanya, setidaknya dicelanya lewat kata-kata. ‘Karena perang saudara berarti sebuah perbenturan antara dua kekuatan bersenjata yang berselisih dengan pemerintahan Negara, maka perbenturan itu berlangsung tidak dalam sebuah medan terbuka antara dua tentara yang berseragam berbeda dan yang dilatih secara reguler, namun berlangsung tepat di jantung masyarakat’. Sebelum tahun 1859, kaum borjuis-lah yang berkepentingan terhadap persatuan nasional dari sudut pandang politik dan ekonomi. Enampuluh tahun kemudian, Italia masih berada dalam kondisi psikologis yang telah ada sejak tahun 1859, namun kini bukan lagi kaum borjuis yang memimpin dan memberi komado dalam perjuangan untuk mencapai persatuan nasional. ‘Saat ini, kelas “nasional” adalah kaum proletariat, himpunan besar dari kaum buruh dan kaum petani, dari masyarakat pekerja di Italia, yang tak akan membolehkan bangsa Italia terpecah-belah karena persatuan negara merupakan bentuk pengorganisasian proses produksi dan pertukaran yang dibangun oleh kaum buruh Italia. Kemakmuran sosial secara lestari dari generasi ke generasi, inilah yang ingin diciptakan oleh kaum proletariat dalam Komunis Internasional. Saat ini, hanya Negara proletariat, kediktatoran proletariat saja yang bisa menghentikan proses runtuhnya persatuan nasional karena Negara proletariat merupakan satu-satunya kekuasaan sejati yang bisa menjauhkan kaum borjuis yang mengejar kepentingannya sendiri dari perilaku mengganggu ketertiban umum dan memaksa kaum borjuis untuk bekerja jika kaum borjuis ingin makan.’
Dalam kasus ini, setiap pembedaan antara demokrasi dan kediktatoran menjadi semata-mata bersifat teoretis. Setiap rezim borjuis dicirikan oleh sebuah keseimbangan antara dua kekuatan politik yang besar, atau lebih tepatnya, antara dua partai parlementer yang mewakili kekuatan politik tersebut, yaitu partai kosenrvatif yang mewakili para pemilik tanah, dan partai demokratis yang mewakili pihak kapital industri. Namun, perbedaan ini tidak terlalu berarti karena tak peduli apakah Negara Italia itu merupakan sebuah negara polisi atau sebaliknya, sebuah negara demokratis dan liberal, ‘kelas buruh akan tetap dan masih tetap memiliki sebuah tugas tunggal, yaitu menggulingkannya’. Gramsci memperingatkan kaum proletariat akan satu bahaya, yaitu kehadiran kaum borjuis kecil di tengah-tengah mereka. Kecongkakan, ambisi global, ketidaktahuan bagaimana harus memahami secara pasti mana-mana yang merupakan kekuatan-kekuatan historis yang mendominasi kehidupan dunia, ketidaktahuan bagaimana memahami posisi dan fungsi mereka yang seharusnya, – semua itu merupakan faktor-faktor yang menyebabkan banyak buruh menjadi kaum borjuis kecil dan secara obyektif melemahkan kaum proletariat dalam perjuangannya. Dan mereka justru melemah pada saat ketika perjuangan memuncak dalam masa setelah perang, yaitu ketika kaum borjuis ‘telah menjadi semakin ganas dan patriotik dalam menyelamatkan hidup dan uangnya sendiri’.
Dalam Prison Notebooks, ada banyak peringatan yang bernilai yang diberikan mengenai kaum borjuis dan mengenai perjuangan kaum proletariat. (Sebagai misal, dalam karya Gli intellettuali e l’organizzazioe della cultura, Gramsci menulis, ‘Setelah terbentuknya kaum borjuis nasional dan setelah bangkitnya kapitalisme, dimulailah emigrasi masyarakat pekerja agar nilai surplus kapitalisme asing bisa meningkat. Jadi, kelemahan kelas yang berkuasa secara nasional selalu menghasilkan dampak yang negatif’. Dalam Note sul Machiavelli, ‘Berangkat dari sebuah kritik yang bersifat oligarkis dan tidak elitis terhadap rezim parlementer (kritik terhadap rezim ini muncul bukan karena alasan bahwa rasionalitas historis dari konsensus kuantitatif yang dicapai oleh rezim bisa secara sistematis digugurkan oleh pengaruh uang), kritik-kritik banal itu diperluas sehingga meliputi pula setiap sistem perwakilan, bahkan sistem perwakilan yang bukan parlementer dan yang dibentuk sesuai dengan ajaran-ajaran baku demokrasi formal’. Dalam sebuah catatan yang termuat dalam Letteratura e vita nazionale, dia menyebut, ‘Voltaire, lambang dari kebergantungan intelektual kepala-kepala keluarga borjuis yang terkenang akan masa-masa heroik dari liberalisme ala café’. Dan dalam Passato e presente, ‘Anda mengatakan anda sanggup membangun katedral-katedral, padahal anda hanya sanggup membangun loteng-loteng. Sungguh berbeda jauh dari Manifesto1 yang memuji-muji kebesaran dari kelas yang tengah sekarat’.)
Namun, referensi-referensi paling berharga mengenai perjuangan kelas tentu saja termuat dalam artikel-artikel kontroversial yang ditulis sebelum dia dipenjara, artikel-artikel yang berasal dari perjuangan politik sehari-hari dan yang muncul dalam kolom-kolom koran, seperti yang ditulis dalam tahun 1926 dan diterbitkan dalam L’Unità. ‘Dua kelas saling berhadap-hadapan satu sama lain saat ini: yaitu kaum proletariat dan kaum borjuis. Situasi saat ini ditentukan oleh perjuangan fundamental dari kedua kelas tersebut. Namun, tak satu pun dari kedua kelas itu yang berdiri sendiri: masing-masing memiliki sekutu-sekutu riil dan potensialnya. Kaum borjuis memiliki keunggulan karena dibantu oleh sekutu-sekutunya, karena dia memiliki sebuah sistem kekuatan yang dikontrol dan dipimpin olehnya. Kaum proletariat juga berjuang untuk merebut sekutu-sekutu itu dari kaum borjuis dan untuk menjadikan mereka sebagai kekuatan-kekuatan pendukung baginya. Konsentrasi Republikan2 merupakan ekspresi politik dari gerak bolak-balik dari kekuatan-kekuatan tengah, dari ketidakseimbangan yang laten dari kekuatan-kekuatan yang akan menentukan nasib dari duel historis di antara dua kelas fundamental. Jika kekuatan-kekuatan ini digerakkan secara en masse (secara serempak), jika berlangsung longsoran sosial dari strata tengah (intermediate strata) ke arah Republikan, kaum borjuis sebagai sebuah “kelas” akan dengan segera bergerak di atas landasan yang sama. Kaum borjuis akan menjadi Republikan selama 24 jam karena dia tak ingin berdiri sendiri, karena kelas borjuis paham bahwa hanya dengan gerakan ini, dia akan bisa melanggengkan posisi-posisi pentingnya… Jadi, (dan inilah intinya) di bawah kondisi-kondisi macam apakah longsoran strata menengah berlangsung? Hal itu hanya terjadi dalam momen kebangkitan kembali yang membahayakan dari energi-energi revolusioner, hanya terjadi jika kapitalisme terbukti tak sanggup memenuhi setiap kebutuhan esensial dari kehidupan nasional. Namun, kami percaya bahwa justru pada momen semacam itu, adalah perlu bagi kaum proletariat untuk bersatu secara politik dan ideologis sebagai sebuah kelas agar sanggup mengatasi problem-problem esensialnya, mengkoordinasikan solusi-solusi itu dengan solusi atas persoalan-persoalan nasional lainnya yang terkait dengan kelas-kelas dan kelompok-kelompok sosial yang akan berjuang di pihaknya. Dengan kata lain, kami tengah bekerja untuk mendirikan kekuasaan kaum proletariat dalam sebuah masyarakat Italia yang telah bertransformasi.’

Pada saat yang bersamaan dengan analisis yang dilakukannya terhadap isi kelas dari masyarakat borjuis, Gramsci melakukan penelitian paralel mengenai relasi niscaya antara sosialisme dan kebebasan, dan di sini pembahasannya menjadi kompleks. Tugas untuk menyingkapkan ideal kebebasan yang borjuis, untuk menunjukkan betapa ideal tersebut tidak valid secara absolut, namun hanya valid secara historis dan dalam artian kelas karena substansinya terletak dalam sebuah periode historis dan dalam sebuah kelas tertentu, merupakan tugas yang sukar dan sangat sulit. Dalam bahasan ini, Gramsci merasakan adanya kebutuhan untuk ‘memprovokasi’, untuk menyerang sistem-sistem dan klise-klise, untuk menciptakan keseimbangan antara kawan dan lawan. ‘Mempercepat kebangkitan masa depan memiliki arti dua hal. Yaitu berusaha agar hasrat akan masa depan ini meluas ke sebanyak mungkin individu yang dibutuhkan untuk bisa mewujudkan harapan itu menjadi kenyataan. Dan hal ini berarti sebuah gerak kemajuan secara kuantitaif. Atau yang lainnya, berhasil menjadikan hasrat akan masa depan itu menjadi sedemikian intens dalam minoritas yang ada, sehingga persamaan 1:1.000.000 menjadi mungkin. Dan hal ini berarti sebuah kemajuan kualitatif. Untuk menjadikan semangat tertempa kuat dan untuk memancarkan ribuan cahaya. Inilah yang harus dikerjakan…’ 3 Menunggu sampai sebuah partai beranggotakan setengah jumlah pemilih plus satu merupakan programnya jiwa-jiwa yang pengecut yang menanti datangnya sosialisme yang lahir dari titah raja dengan bantuan tanda tangan dua pendeta.’ ‘Provokasi-provokasi’ yang terus beranjut dalam prosa dan artikel-artikelnya juga ditujukan kepada para kameradnya, namun bukan dalam kerangka maksud untuk membingungkan, namun demi pemahaman dialektis atas kompleksitas realitas dan proses historis yang berakar mendalam pada kompleksitas realitas tersebut. Sebuah teladan dari hal ini ialah artikel terkenal, La rivoluzione contro il ‘Capitale’ yang diterbitkan pada tahun 1918 dalam Il Grido del Popolo. Dalam artikel ini, dia berargumen bahwa revolusi Bolsyewik telah berhasil mengungguli setiap teori Marxis di sebuah negara yang paling terbelakang dalam ekonomi dan industrinya. ‘Fakta-fakta telah mengubah ideologi. Fakta-fakta telah menghancurkan skema kritis yang harus dijalani oleh sejarah Rusia sesuai dengan ajaran-ajaran baku materialisme historis. Kaum Bolsyewik telah membantah Karl Marx dan dengan bukti aksi nyata dan keberhasilan penaklukan-penaklukan, mereka menyatakan bahwa ajaran-ajaran baku materialisme historis tidaklah sekokoh baja seperti yang seharusnya dan seperti yang dibayangkan.’ Dan bertentangan dengan segenap konsep kebebasan yang bersifat formal, Gramsci memuji-muji keteguhan prinsip dan kekuatan ‘yang merupakan wasit tertinggi dari konflik’. Kaum sosialis ingin mendirikan sebuah masyarakat baru, dan karena itu, mereka harus mensubordinasikan seluruh upaya dan pemikiran mereka kepada tujuan tersebut. Mereka harus menjadi lebih kuat agar bisa menang, kata Gramsci, dan dalam konteks ini, kedisiplinan partai, kekuatan kelas, dengan kata lain keteguhan pendirian menjadi senjata yang perlu, bahkan merupakan sebuah ‘keniscayaan demokratis’.
Agar bisa memahami secara pasti apa hubungan seharusnya antara sosialisme dan kebebasan, adalah perlu untuk memulai bahasan ini dari awal, dan membahas struktur negara, kaum borjuis, dan perjuangan kelas. Setiap undang-undang politik secara niscaya bergantung pada struktur ekonomi, pada bentuk-bentuk produksi dan pertukaran. Namun, oramg tidak boleh keliru dengan mempercayai bahwa hanya ada relasi tunggal antara premis (sturktur ekonomi) dan konsekuensi (undang-undang politik). Sejarah merupakan ‘gerak perkembangan bebas’, bukan ‘geometri yang telah terbentuk sebelumnya’, bukan ‘rancangan-rancangan yang telah jadi sebelumnya’. Kita tak boleh percaya pada otoritas, namun pada spontanitas dan kebebasan yang harus dipahami sebagai sebuah ‘cita-cita primordial’ dengan dasar bahwa ‘seluruh perjuangan manusia merupakan sebuah usaha dan sebuah kerja untuk merealisasikan institusi-institusi sosial yang menjamin kebebasan maksimal’. Di sisi lain, jelas bahwa kebebasan harus dan bisa dijamin oleh sebuah kediktatoran dalam melawan ‘serangan-serangan minoritas yang ingin memecah-mecah’. Namun, kediktatoran ini akan lenyap begitu kediktatoran itu telah memungkinkan terciptanya dan menguatnya institusi-institusi yang sanggup menjaga kebebasan. Bahkan, dan Gramsci menyatakan dengan kuat, sosialisme adalah kebebasan itu sendiri karena sosialisme merupakan ‘sebuah perkembangan tiada akhir dari sebuah rezim kebebasan yang diorganisir dan dikontrol oleh mayoritas warga negara atau oleh kaum proletariat’. Tanpa kebebasan, tak mungkin untuk menyatukan kesadaran karena ‘tangisan-tangisan kecil dari penderitaan individual akan menyatu dalam harmoni universal’. Gramsci muda telah menulis dalam sebuah catatan tahun 1916 bahwa kaum proletariat tak terpengaruh oleh prasangka-prasangka. Kaum proletariat akan menghimpun kebenaran dari negeri mana pun dan dari kelas mana pun. Namun, para penentang mereka juga akan berjuang demi apa yang mereka proklamirkan sebagai tuntutan-tuntutan keadilan, demi alasan-alasan moral dan ideal-ideal mereka. Dalam kasus ini, hanya kekuatan yang bisa memutuskan siapa di antara mereka yang benar. Inilah mengapa kaum proletariat harus mengorganisir kekuatan-kekuatannya sendiri, dan setelah kemenangan dicapai, tuntutan-tuntutan keadilannya akan diakui oleh setiap orang, bahkan oleh musuh-musuhnya.
Tentu saja, akan muncul problem kekuasaan yang sangat kompleks. Kaum buruh dan kaum petani menunjuk Partai Sosialis sebagai pemimpin politik mereka yang alamiah. Namun, ketika keduanya telah menjalankan disiplin partai, justru keduanya yang akan menjadi pemandu partai dengan aksi politik mereka cara untuk merebut kekuasaan, jalan menuju pemerintahan ‘yang didasarkan secara konstitusional bukan pada parlemen hasil pemilu, pada parlemen yang dipilih oleh kaum yang tereksploitasi dan yang mengeksploitasi, namun pada sebuah sistem dewan buruh dan petani yang menjadi perwujudan dari kekuasaan politik dan industrial pemerintah’. Gramsci menganggap bahwa problem fundamental partai ialah membangun ‘sebuah Negara yang berfungsi secara demokratis ke dalam, dengan kata lain yang menjamin kebebasan dan kemungkinan menjadi bagian pemerintahan proletarian dari semua tendensi anti-kapitalis, dan keluar sebagai sebuah mesin yang tak tergantikan yang akan menghancurkan organ-organ kekuasaan politik dan industrial dari kapitalisme’. Karena itu, Gramsci tampaknya percaya secara koheren pada gerak perkembangan bebas dari masyarakat sosialis dan kaum proletariat, sementara pada saat yang bersaman, Gramsci menyangkal setiap validitas institusi-institusi perwakilan dan apa yang disebut sebagai demokrasi borjuis. ‘Dewan parlemen,’ tulisnya dalam sebuah artikel dalam L’Ordine Nuovo tahun 1920, ‘merupakan bentuk asosiasi yang memiliki hubungan dengan Negara dan didasarkan pada distrik teritorial. Dewan parlemen merupakan kelanjutan dari organsiasi penduduk barbar yang mengekspresikan kedaulatan mereka dengan cara membuang senjata-senjata mereka ke tanah dan mengekspresikannya dengan cara menggonggong. Psikologi dari dewan-dewan parlemen politik yang menjadi lembaga pengekspresi kedaulatan dalam rezim-rezim yang demokratis adalah “psikologi kerumunan” (crowd psychology), yaitu diutamakannya instink-instink kebinatangan dan ketiadaan tanggung jawab secara mutlak terhadap rasionalitas dan spiritualitas.’ Komunisme merupakan ‘humanisme integral’ karena komunisme mempelajari kekuatan-kekuatan historis yang bersifat ekonomi dan spiritual, dan mempelajari proses dialektis yang menyatukan dan mengembangkan kekuatan-kekuatan tersebut. Namun, ‘kami sangat yakin bahwa kelas buruh hanya akan bisa mencapai kebebasannya dengan melewati sebuah periode “kediktatoran”, periode paksaan, periode-nya Negara Buruh’. Di luar itu, kelas buruh merupakan satu-satunya kekuatan yang sanggup menghancurkan kapitalisme dan menjamin kebebasan dan perkembangan manusia. Dengan tercapainya emansipasi ini, maka pada saat yang bersamaan tercapai pula kebebasan dari semua kelas sosial dari tirani kapitalisme.
Menjadi jelas bahwa Gramsci harus pula menjelaskan secra alebih panjang lebar lagi problem relasi antara sosialisme dan kebebasan dalam artikel-artikelnya sebagai seorang militan politik, namun terdapat dua catatan yang bernilai sangat penting dalam Prison Notebooks yang berharga untuk diketahui dan dipelajari. Dalam sebuah halaman dari Passato e presente yang berjudul Organic Centralism, Democratic Centralism, Discipline, Gramsci memulai bahasannya dengan mengajukan pertanyaan bagaimana disiplin itu harus dipahami. Gramsci mendefinisikan istilah tersebut sebagai ‘sebuah relasi yang kontinu dan permanen antara para pemimpin dan yang dipimpin yang menghasilkan sebuah kehendak bersama’. Dan dia menjawab, ‘Tentu saja tidak sebagai penerimaan secara pasif dan pasrah pada tatanan-tatanan yang ada, atau sebagai pelaksanaan mekanis dari sebuah tugas (meski hal ini memang masih perlu dilakukan dalam beberapa kesempatan, sebagai misal di tengah-tengah sebuah aksi yang telah ditetapkan dan dijalankan), namun sebagai pengasimilasian secara sadar dan tegas dari arahan yang dicapai. Karena itu, disiplin tidak boleh membatalkan kepribadian dalam artian organisnya, namun hanya membatasi kebebasan dan sifat impulsif yang tak bertanggung jawab, dan terutama membatasi upaya kesombongan yang dungu dalam memimpin… Karena itu, disiplin tidak boleh menegasi kepribadian dan kebebasan; persoalan “kepribadian dan kebebasan” berakar bukan pada fakta keharusan untuk menegakkan disiplin itu sendiri, namun dari keharusan sumber kekuasaan yang menegakkan disiplin tersebut. Jika sumber kekuasaan itu “bersifat demokratis”, yaitu jika otoritas merupakan sebuah fungsi teknis yang khusus dan bukan merupakan “kesewenang-wenangan” atau sebuah pemaksaan oleh pihak luar dan bersifat permukaan saja, maka disiplin merupakan sebuah elemen niscaya dari tatanan yang demokratis, dari kebebasan.’
Gramsci menunjukkan dalam sebuah tulisan yang tak lazim dari karya Materialismo storico e la filosofia di Benedetto Croce bahwa sosialisme merupakan kebebasan, kebebasan absolut melawan setiap dogma, terhadap setiap kebenaran yang dikatakan, dan terhadap setiap skema yang telah mapan. Marxisme, kata Gramsci, menunjukkan bagaimana setiap teori bersumber dari sebuah situasi sosial dan ekonomi tertentu. Namun, jika pernyataan ini benar, maka kita juga harus menerapkan standar baku yang sama terhadap Marxisme dan percaya bahwa bahkan Marxisme bukanlah teori ‘paling akhir’ karena gagasan itu juga harus terkait dengan konteks sebuah struktur masyarakat sosialis atau komunis. ‘Meski filsafat praksis4 menyatakan secara teoretis bahwa setiap “kebenaran” yang dipercayai bersifat abadi dan absolut bersumber dari hal yang praktis dan bernilai “transisi” (merupakan proses kesejarahan dari setiap konsepsi dunia dan kehidupan), namun sangat sulit untuk memahami “secara praktis” bahwa interpretasi semacam itu juga bernilai valid bagi filsafat praksis itu sendiri tanpa harus menggoyahkan anggapan-anggapan yang bernilai perlu bagi sebuah aksi.’ Bahkan, orang bisa memperluas pernyataan ini sejauh mungkin sehingga percaya bahwa dalam sebuah masyarakat komunis di masa depan, Marxisme mungkin akan lenyap dan membiarkan medan historis saat itu untuk diisi oleh konsepsi-konsepsi keagamaan atau idealistik yang menemukan kebebasan dan kemerdekaan sejati mereka terwujud dalam semua fasenya dalam dunia dan masyarakat saat itu. ‘Harus dikatakan juga bahwa transisi dari tahap keniscyaan ke tahap kebebasan berlangsung bagi masyarakat manusia, dan bukan bagi alam (meskipun kebebasan masyarakat manusia itu mungkin memiliki konsekuensi-konsekuensi terhadap persepsi kita terhadap alam, terhadap pandangan-pandangan saintifik dsb.). Orang mungkin pada akhrinya akan membenarkan bahwa sementara seluruh sistem filsafat praksis bisa menjadi bersifat transisi dalam sebuah dunia yang bersatu, namun banyak konsepsi idealistik, atau paling tidak beberapa aspek darinya, yang bersifat utopian selama periode keniscayaan, malah akan menjadi “kebenaran” seusai rampungnya tahap transisi.”

Perjalanan Manusia Yang Sangat Berharga

Rabu, 24 April 2013

Image

Sebuah rumah berdiri kokoh tetap diatas tanah yang menghubungkan pondasi yang terbuat dari semen dan bebatuan. Alangkah terlindunginya manusia jika terjadi hujan mereka bisa tidur pulas dengan dilengkapi fasilitas yang enak dan megah.

Saat itu kedua orang tua fadhil sedang melakukan pekerjaannya masing-masing, aku seoraang siswa sekolah dasar negeri di daerahku di bekasi. Pada hari itu aku seperti biasa berangkat sekolah tanpa diantar oleh kedua orang tua karena orang tua mendidik secara tidak langsung kepadaku untuk mandiri, pada saat itu kalau tidak salah aku berumur 10 tahun dan masih duduk dikelas 4 Sekolah Dasar (SD). hari itu hari pembagian rapot kelas dimana aku mendapatkan ranking 5 besar dan hari itu hari pertama akau mendapatkan ranking tersebut dan sangat antusias untuk segera cepat pulang, setelah selesai pengumuman dan pembagian rapot, akupun pulang dengan menggenggam erat rapot di tangan kananku, saking senangnya aku berlari karena ingin segera menyampaikan berita bahagia tersebut kepada kedua orang tua. Sesampainya aku di depan rumah dan kebetulan letak rumahku pinggir jalan yang berbeda dari sekolahku sehingga memungkinkanku untuk menyebrang. Ketika itu aku mulai menyebrang mungkin saking buru-burunya aku lupa untuk melihat kanan-kiri sehingga kejadian yang tidak diduga-dugapun terjadi aku diserempet motor sehingga mataku bengkak dan biru karena terkena stang motor. kejadian ini membuat aku belajar pertama kesenangan itu semata-mata milik Allah SWT dan musibah dan ujian adalah sebuah sarana untuk kita lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, kedua berhati-hati melintasi jalan maksud tersebut bisa berarti hati-hati dengan kebusukan dunia karena dunia hanya sementara. 

Sekian. Terima Kasih.

Momentum Politik 2013-2014 Sebagai Persiapan pemilu 2014

Senin, 22 April 2013

Simbol-simbol politik yang sekarang merajalela di indonesia membuat para politikus dan para team sukses mengencangkan tali pinggangnya untuk pemilu 2014 ini. Bagi kalangan mahasiswa ini menjadi momentum perpolitikan dan menjadi tanda sinyal yang kuat untuk membangun dan menyampaikan aspirasi rakyat yang dimana sistem yang dianut negara republik indonesia yakni Demokrasi justru mengagetkan banyak pihak yang menduga sistem demokrasi ini akan berjalan dengan baik. padahal sebaliknya rakyat indonesia seakan-akan tidak siap menghadapi sistem demokrasi tersebut dan mencoba menghindar.

Bagi saya, 2013 ini memang waktu yang pas untuk mengubah indonesia yang cenderung otoriter pemerintahan nya dan mengubah segala aspek negatif menjadi positif. sistem ekonomi yang negara ini anut yakni sistem “kerakyatan” seakan-akan berubah tanpa disadari, ada ajas praduga yng menyebut negara ini akan menjadi negara yang Kapitalisme dan negara kapitalisme identik dengan negara liberalisme. Kejadian demi kejadian terjadi ini dikarenakan rakyat mengalami masa disintegritas yang berkepanjangan, kalo anda pemerhati televisi atu media cetak dan lain-lain maka yang sering anda lihat adalah kejadian yang saya rasa rakyat ini perlu mengalami perubahan tidak hanya disektor ekonomi, politik, dan lain lain. tapi, dalam hal pemanfaatan SDM dan SDA misalnya. Negara Indonesia ini negara yang subur dan memiliki SDM dan SDA yang memadai tapi apa yg bisa diperbuat ? indonesia memproses minyak mentah dan minyak tersebut diekspor keluar dan diluar diolah menjadi bahan bakar lalu dijual lagi ke indonesia, Ironis. seharusnya minyak mentah yang berasal dari indonesia jika diolah maka harganya akan jauh lebih tinggi ini dikarenakan pemerintah tidak mempunyai fasilitas untuk mengolah menjadi bahan bakar yg harganya jauh dari minyak mentah.

Pendapat saya jika masalah-masalah seperti ini tidak diatasi maka yg terjadi adalah kebobrokan perlu adanya perubahan, perubahan yang dimaksud bukan hanya omongan belaka dan saya pikir indonesia ini memerlukan sosok pemimpin yang mempunyai sifat yang bisa dibilang “GILA” karena masalah ini bukan masalah sepele. #MYF